Ini hari Senin pagi, dan setiap
hari Senin pagi selalu ada upacara pagi. Setiap ada upacara pagi, disitu ada
pemeriksaan kelengkapan seragam sekolah seperti seragam, sabuk pinggang, badge,
sepatu dan topi sekolah. Bila ada satu saja kelegkapan sekolah yang lupa
dipakai, sanksinya adalah dipajang di lapangan upacara selama upacara
berlangsung. Oh yeah, guru-guru selalu tahu bagaimana cara menghukum muridnya.
Beberapa siswa
beruntung mempersiapkan semua kelengkapan sekolah dengan baik. Beberapa siswa
yang cukup beruntung menyadari ketidaklengkapan atribut sekolahnya dan memilih
untuk melengkapinya dengan membeli yang baru di koperasi sekolah. Meskipun
demikian selalu ada siswa yang amat sangat tidak beruntung yang baru menyadari
ketidaklengkapan atribut pakaiannya kurang dari lima menit sebelum upacara di
mulai.
Gea salah
satunya, gadis manis berambut lurus panjang sepunggung dengan mata yang tajam
inilah salah satu yang amat sangat tidak beruntung. Ia berlari setengah menderu
kearah kantin.
“Gea, ngapain
kamu! Ayo cepat baris!”seru Leo, ketua kelas X-D. Kelasnya.
“Berisik! Mau
beli topi dulu!”seru Gea sambil terus menuju koperasi. Leo menatapnya kesal
namun memilih meninggalkan teman sekelasnya yang tidak tertib itu.
Gea akhirnya
tiba di kantin. Disana sudah ada Pak Min, penjaga koperasi sekolah. “Pak, beli
topi sekolah satu,”kata Gea sambil menyodorkan uang dua puluh ribu rupiah. “Yah
non, topinya sudah habis nih! “kata Pak Min sambil menyerahkan topi terakhir
pada seorang siswa pria yang datang terlebih dahulu. Gea mengerjap, “yakin pak?
Ayolaaah! I beg you!”seru Gea pakai bahasa Inggris,
“Apaan tuh
artinya neng?”tanya Pak Min garuk-garuk kepala. Ia tidak mengerti maksud siswa
aneh yang satu ini. Gea menatap Pak Min gelisah. Ia kesal sekali tidak
mendapatkan apa yang ia ingikan. “Please pak please!!!”seru Gea. Pak Min hanya
garuk-garuk kepala.
“Para siswa
diiminta segera berbaris di lapangan upacara,”ujar suara pengumuman dari guru
BK. Gea menggigit bibir, sudah pasti nih dia akan dihukum.
Set! Set! Seseorang
menjawil pundak Gea, Gea menoleh tidak sabar. “APA!!”seu Gea galak, sedih dan
tidak sabaran “Hei, pakai saja puyaku,”kata siswa itu sambil menyodorkan topi
yang baru saja dibelinya.
Gea mengerjap
tidak percaya. “Apa? Kamu tidak butuh?”tanya Gea.
“Ys, tapi
tmpaknya kamu lebih membutuhkannya,”kata siswa itu. Ia mendekati Gea, keduanya
berhadap-hadapan. Ia melepas topinya dan memakaikannya di kepala Gea.
Gea menatap
siswa itu, kedua bola mata merek bertemu. “Hai aku Harris, Dari kelas X-B,”kata
Haris.
Gea tersenyum. “Hai,
aku Gea,”kata Gea. Ia menggigit bibir, tidak tahu harus bicara apa. “Dari kelas
X-D,”katanya lagi melanjutkan. Haris tersenyum kepadanya. Jantung Gea berdegup
tidak terkendali.
“Ayo,”kata
Harris sambil menggerakkan kepalanya kearah lapangan upacara. Gea tersenyum dan
mengikuti.
Lapangan upacara
sudah penuh. Beberapa guru sudah berbaris rapi. Tidak perlu waktu lama sebelum
mereka sadar Harris tidak memakai atribut upacara lengkap. Mereka mengeksekusi
Harris, meminta Harris berbaris di depan bersama para unlucky fellas lainnya.
Sementara Gea langsung
bergabung ke barisan kelas X-D. Sepanjang upacara MATA Gea tidak bisa lepas
dari Harris. Awalnya ia merasa rasa
bersalah yang sangat dan campur aduk lalu berubah menjadi berbeda saat Harris
menyadari tatapan Gea kearahnya. Harris tersenyum lalu mengerlingkan mata.
Wajah Gea bersemu merah, entah karena matahari atau perasaan yang membuncah
jiwanya.
Gea tersenyum
lembut kearah Harris, membalas senyum Harris. Harris tersenyum malu, “Gak usah
senyum-senyum kamu!! Kamu dihukum tahu!!” Ujar pak Danar, guru olahraga galak
yang mengurusi para unlucky fellas. Harris tersenyum dalam hati, siapa yang peduli dihukum di depan lapangan
upacara bila bisa memenangkan hati seorang gadis manis setelahnya?
THE END

Tidak ada komentar:
Posting Komentar