Senin, 29 Juni 2015

The Hat

Ini hari Senin pagi, dan setiap hari Senin pagi selalu ada upacara pagi. Setiap ada upacara pagi, disitu ada pemeriksaan kelengkapan seragam sekolah seperti seragam, sabuk pinggang, badge, sepatu dan topi sekolah. Bila ada satu saja kelegkapan sekolah yang lupa dipakai, sanksinya adalah dipajang di lapangan upacara selama upacara berlangsung. Oh yeah, guru-guru selalu tahu bagaimana cara menghukum muridnya.

Beberapa siswa beruntung mempersiapkan semua kelengkapan sekolah dengan baik. Beberapa siswa yang cukup beruntung menyadari ketidaklengkapan atribut sekolahnya dan memilih untuk melengkapinya dengan membeli yang baru di koperasi sekolah. Meskipun demikian selalu ada siswa yang amat sangat tidak beruntung yang baru menyadari ketidaklengkapan atribut pakaiannya kurang dari lima menit sebelum upacara di mulai.

Gea salah satunya, gadis manis berambut lurus panjang sepunggung dengan mata yang tajam inilah salah satu yang amat sangat tidak beruntung. Ia berlari setengah menderu kearah kantin.

“Gea, ngapain kamu! Ayo cepat baris!”seru Leo, ketua kelas X-D. Kelasnya.

“Berisik! Mau beli topi dulu!”seru Gea sambil terus menuju koperasi. Leo menatapnya kesal namun memilih meninggalkan teman sekelasnya yang tidak tertib itu.

Gea akhirnya tiba di kantin. Disana sudah ada Pak Min, penjaga koperasi sekolah. “Pak, beli topi sekolah satu,”kata Gea sambil menyodorkan uang dua puluh ribu rupiah. “Yah non, topinya sudah habis nih! “kata Pak Min sambil menyerahkan topi terakhir pada seorang siswa pria yang datang terlebih dahulu. Gea mengerjap, “yakin pak? Ayolaaah! I beg you!”seru Gea pakai bahasa Inggris,

“Apaan tuh artinya neng?”tanya Pak Min garuk-garuk kepala. Ia tidak mengerti maksud siswa aneh yang satu ini. Gea menatap Pak Min gelisah. Ia kesal sekali tidak mendapatkan apa yang ia ingikan. “Please pak please!!!”seru Gea. Pak Min hanya garuk-garuk kepala.

“Para siswa diiminta segera berbaris di lapangan upacara,”ujar suara pengumuman dari guru BK. Gea menggigit bibir, sudah pasti nih dia akan dihukum.

Set! Set! Seseorang menjawil pundak Gea, Gea menoleh tidak sabar. “APA!!”seu Gea galak, sedih dan tidak sabaran “Hei, pakai saja puyaku,”kata siswa itu sambil menyodorkan topi yang baru saja dibelinya.

Gea mengerjap tidak percaya. “Apa? Kamu tidak butuh?”tanya Gea.  

“Ys, tapi tmpaknya kamu lebih membutuhkannya,”kata siswa itu. Ia mendekati Gea, keduanya berhadap-hadapan. Ia melepas topinya dan memakaikannya di kepala Gea.

Gea menatap siswa itu, kedua bola mata merek bertemu. “Hai aku Harris, Dari kelas X-B,”kata Haris.

Gea tersenyum. “Hai, aku Gea,”kata Gea. Ia menggigit bibir, tidak tahu harus bicara apa. “Dari kelas X-D,”katanya lagi melanjutkan. Haris tersenyum kepadanya. Jantung Gea berdegup tidak terkendali.   

“Ayo,”kata Harris sambil menggerakkan kepalanya kearah lapangan upacara. Gea tersenyum dan mengikuti.

Lapangan upacara sudah penuh. Beberapa guru sudah berbaris rapi. Tidak perlu waktu lama sebelum mereka sadar Harris tidak memakai atribut upacara lengkap. Mereka mengeksekusi Harris, meminta Harris berbaris di depan bersama para unlucky fellas lainnya.

Sementara Gea langsung bergabung ke barisan kelas X-D. Sepanjang upacara MATA Gea tidak bisa lepas dari Harris.  Awalnya ia merasa rasa bersalah yang sangat dan campur aduk lalu berubah menjadi berbeda saat Harris menyadari tatapan Gea kearahnya. Harris tersenyum lalu mengerlingkan mata. Wajah Gea bersemu merah, entah karena matahari atau perasaan yang membuncah jiwanya.

Gea tersenyum lembut kearah Harris, membalas senyum Harris. Harris tersenyum malu, “Gak usah senyum-senyum kamu!! Kamu dihukum tahu!!” Ujar pak Danar, guru olahraga galak yang mengurusi para unlucky fellas. Harris tersenyum dalam hati, siapa yang peduli dihukum di depan lapangan upacara bila bisa memenangkan hati seorang gadis manis setelahnya?



THE END

Tidak ada komentar:

Posting Komentar