Jumat, 26 Juni 2015

Bougenville


Raisa duduk santai sendirian di salah satu sisi taman The Prestige High School. Jam menunjukkan pukul 15:35. Beberapa siswa sudah menghambur pulang. Mereka berjalan menuju pintu gerbang. Satu dua dari siswa kelas 12 melambaikan tangan kearah Raisa karena mereka mengenalnya. Raisa membalas lambaian tangan mereka satu persatu sambil tersenyum seakan dirinya badut ancol.

Seorang gadis kelas 12 A yang sedang berjalan kearah pintu gerbang mendekatinya. “Raisa, sedang apa kamu? Kamu tidak pulang?”tanya Nadisa, nama gadis itu.

Raisa hanya mengangguk. Ada jeda sesaat, Raisa berkata, “aku sedang menunggu Dean,”kata raisa.
Nadisa tertawa, “oh ya? Ada apa dengannya?”tanya nadisa setengah mengejek.

Raisa memukul bahunya. “kalau kamu Cuma mau mengejek, sebaiknya pergi saja!”seru Raisa.
Nadisa kembali ke teman-temannya. Setengah tertawa lalu menoleh kearah Raisa “Have fun!”serunya sambil melanjutkan perjalanan pulang.

Raisa hanya memutar matanya seakan berkata ‘yang benar saja!’. Dean adalah gebetannya sejak dua bulan terakhir. Cukup melelahkan ‘digantung’ oleh hubungan yang tidak jelas selama itu namun Raisa masih ingin bertahan. Dean cukup tampan, ia juga tidak bodoh, tidak lemah dan tidak pernah terlihat ‘awkward’. Sayangnya baik dirinya maupun Dean tidak terlalu pandai berpacaran. Tidak ada satupun dari mereka yang pernah berpacaran sebelumnya. Meskipun demikian, Dean pantas diperjuangkan.

Selama dua bulan ini Dean dan dirinya hanya pulang bersama, saling berdiskusi, bercanda dan jalan-jalan ke mal saat weekend. Mereka memiliki banyak topic pembicaraan. Raisa suka dengan fashion, artis, lagu-lagu, makanan dan dia senang membagi pengetahuannya itu pada Dean. Dean sebaliknya, ia suka sepakbola, otomotif, dan dia  senang membagi pengetahuannya itu pada Raisa. Ketertarikan mereka pada hal yang berbeda tersebut tidak membuat mereka menjauh, justru saling mendekat dan melengkapi.

Teman-teman mereka pun beririsan. Raisa mengenal beberapa teman Dean, Dean pun mengenal beberapa teman Raisa. Mereka juga saling membicarakan teman masing-masing. Jadi semakin banyak saja ketersediaan bahan pembicaraan untuk mereka.

Meskipun demikian, mereka tidak kunjung menjadi sepasang kekasih. Teman-teman raisa sudah mulai bertanya-tanya, kapan mereka jadian? Apa Dean serius denganmu? Ada kalanya raisa berpikir, mungkin sebaiknya dia mulai duluan menyatakan cinta pada Dean.  

Walaupun begitu, jauh di lubuk hati yang paling dalam, Raisa merasa Dean bukan tipe pria yang suka ditembak cewek. Ia mungkin saja menerima pernyataan cinta Raisa namun Raisa takut itu membuat Raisa terlihat ‘mudah didapat’. Bukankah sudah jadi naluri kalau pria itu lebih suka ‘memburu’ daripada ‘diburu’.

Ah Jadi serba salah.

Raisa menatap sekeliling, pada Bunga bougenville keunguan yang ada di taman. ‘Dear bunga Bougenville yang cantik, apa yang harus kulakukan?’tanya Raisa dalam hati.

Bohong! Bunga Bougenville bukanlah bunga yang cantik. Bunga mawar atau anggrek lebih cantik dari bunga ini. Raisa sering bertanya-tanya sejak kelas 10, mengapa di sekolah ini ada begitu banyak bunga Bougenville.

Saat ia menginjak kelas 11, ia pernah mendengar Pak Min, penjaga sekolah berkata, bahwa bunga Bougenville relative mudah dirawat. Bunga ini tidak butuh pupuk dan tidak punya duri yang berbahaya.  Ia hanya perlu disiram setiap hari. Tidak ada yang special dari bunga ini. Pemilik The Prestige High School bisa saja mengganti bunga Bougenville dengan kembang sepatu atau kenanga atau sedap malam. Tidak masalah! Namun bunga itu sudah ada disana sejak lama, tidak rewel.

Tidak menuntut banyak.

Raisa tertegun sejenak. Kata menuntut membuat dia merefleksikan kembali keinginannya untuk menjadi pacar Dean. Apakah ia menuntut banyak dengan mengharapkan hal tersebut? Raisa menggigit bibir.

15: 45 Setelah sepuluh menit menunggu. Raisa bisa melihat Dean dari kejauhan. Ia berjalan kearahnya agak lambat. Matanya yang hitam menatap kearahnya sambil tersenyum. Raisa membalas senyum Dean.

Tiba-tiba mata Raisa menatap seorang gadis disamping Dean. Oh my God! Who is she? Gadis itu berjalan beriringan dengannya. Dari gerakan badannya sepertinya Dean dan gadis itu tengah melakukan percakapan yang cukup seru.

Cemburu! Raisa merasa cemburu!

Dean dan gadis itu mendekatinya. Raisa menarik nafas. Ia sudah siap dengan apa yang mereka katakan. “Raisa, kenalkan ini Fanny, adik kelas kita, kelas 11-D. Dia anggota baru tim sepakbola cewek. Dia akan meminjam beberapa majalah bola ku,”kata Dean.

Fanny tersenyum kearah Raisa, “hai kak!”sapanya.

Raisa menghela nafas. “Oh hai!”sapa Raisa balik.

“Okay, sampai ketemu besok ya Kak Dean, jangan lupa bawa majalahnya!”seru Fanny.

Dean tertawa. “Okay!”  Raisa menatap sosok Fanny sampai menghilang dari batas horizon.

“Maaf ya kamu jadi menunggu aku karena Fanny tiba tiba mengajakku bicara,”kata Dean. Raisa menggeleng. Sungguh, menunggu sepuluh menit bukan masalah baginya.

Dean tertawa, “ayo kita pulang,”katanya mengalihkan.

Raisa menatap Dean, ia setengah menyeret kakinya untuk menuju gerbang sekolah. Ada hal yang ingin ia sampaikan pada Dean namun tertahan. Pikiran Raisa menimbang-nimbang perlu tidaknya ia mengatakan hal tersebut pada Dean. 

“Aku sempat berpikir kamu dan Fanny pacaran,”kata Raisa akhirnya setelah beberapa langkah.
Dean menatapnya setengah mengernyit. “Kenapa begitu?”tanya Dean.

“Entahlah… kupikir kalian terlihat cocok,”kata Raisa. Dean menatapnya lekat-lekat.

“Apakah kita tidak pernah terlihat cocok dimatamu?”tanya Dean. Raisa mengerjap. Ia menatap Dean. Dean tersenyum kearahnya. Raisa mencoba menangkap maksud Dean. Ada keyakinan bahwa kalimat itu mengindikasikan Dean sudah menganggap Raisa pacarnya, tapi apa benar begitu?

“Ma… maksudnya?”tanya Raisa.

Dean menghela nafas sambil tersenyum jahil. “Kau tahu maksudku, dan aku tidak ingin mengulanginya lagi,”kata Dean.

Raisa menatap lamat-lamat. Ia akhirnya tersenyum. Untuk pertama kalinya ia melihat wajah Dean sewarna dengan bunga-bunga Bougenville itu.

Daftar Pustaka
http://www.shutterstock.com/video/clip-33961-stock-footage-beautiful-hot-pink-bougainvillea-flowers-sway-in-a-warm-spring-breeze.html



Tidak ada komentar:

Posting Komentar