Kamis, 09 Juli 2015

The Thing We Shared


Tidak ada yang dapat menghentikan Leo
Ia selalu medapatkan apa yang ia inginkan
Murid lain seringkali merasa kagum dengan pencapaian yang ia dapatkan
Ia ambisius, cerdas, pekerja keras dan cukup atletis
Bagian terburuknya, ia tidak pernah merasa puas
Lebih hebat lagi, lebih sempurna lagi!
Sempurna… sempurna… sempurna…
Tidak boleh lengah, tidak boleh kalah.
Menyingkirlah kalian! Akulah yang nomor satu! 
Dan biasanya ia selalu berhasil
Biasanya
                                                                           
Meskipun demikian kali ini tidak begitu
Ada seorang gadis yang mencuri kemenangannya
Tidak boleh ada satu orang pun yang mencuri kemenanganku

Adalah Ilsa Herman pelakunya
Pencuri! Pikir Leo.
Ia tidak percaya akan hasil akhir ujian matematika di sekolah semester satu   
Leo berada di posisi kedua untuk ingkat satu sekolah.
Hal yang sama terjadi pada hasil akhir ujian Fisika dan Kimia
Leo berada di posisi kedua untuk tingkat satu sekolah
Posisi pertamanya dipegang oleh Ilsa Herman
Tidak boleh ada satu orang pun yang mencuri kemenanganku
Setelah hasil ujian kimia diumumkan, Leo gelisah.
Ia ingin mencari tahu sosok Ilsa Herman

“Untuk apa? Kamu nomor satu di pelajaran sastra, nomor satu dipelajaran olahraga. Untuk apa kamu juga ingin menjadi nomor satu dipelajaran eksakta?”tanya Oliver, sahabatnya.

“Kamu tidak bisa menjadi nomor satu dalam semua hal,”kata Kayla, sahabatnya yang lain
  
Leo justru semakin gelisah.

“Aku hanya ingin tahu siapa itu Ilsa Herman!”seru Leo keras kepala.

“Hanya?”tanya Kayla menggoda.

“Hanya!”tandas Oliver mengejek.

Tidak ada satupun siswa kelas X yang mengenal seluruh siswa kelas X. Dalam hubungan interpersonal, mereka biasanya membentuk kelompok 3-6 orang dan tidak peduli apa yang terjadi pada siswa diluar kelompok mereka.

Leo juga demikian, ia tidak mengenal seluruh anggota kelas X. Walaupun begitu, dengan pencarian ekstensif dan bantuan dari Kayla, sahabatnya yang punya banyak kenalan. Ia berhasil mengetahui sosok Ilsa Herman.

Awalnya Leo berpikir, Ilsa Herman adalah gadis kelas X yang mad-scientist! Ia berambut berantakan, bermata besar dan memakai kacamata tebal.

Leo salah… lagi!

Ilsa Herman adalah gadis yang tinggi, kurus dengan tulang pipi yang tinggi, mata kecil yang tajam, tidak memakai kacamata, bibir yang kecil dan bila tersenyum, senyumnya seperti Monalisa. Kamu tidak tahu apakah ia benar-benar tersenyum atau Cuma efek cahaya. 

Ilsa bergaul dengan sejumlah gadis dan beberapa siswa laki-laki. Ia berasal dari kelas X-F, enam kelas jauhnya dari kelas Leo, X-A.

Leo menghampiri Ilsa saat ia punya waktu di jam istirahat siang pukul 12. Saat itu matahari sedang menyinari bumi dengan seluruh panas yang bisa ia gunakan. Ilsa sedang memakan batagor dengan beberapa orang gadis. Ia tidak tahu Leo akan menghampirinya.

“Halo, Ilsa ya! Perkenalkan, saya Leo dari kelas X-A,”kata Leo memperkenalkan diri. Ilsa menatapnya dingin selama beberapa detik namun Leo tidak canggung dibuatnya. Hanya lelaki lemah yang canggung berkenalan dengan seorang gadis.

“Oh, halo,”kata Ilsa membalas sapaannya Leo. “ada perlu apa?”tanyanya sambil menaikkan alis. Tatapan ilsa padanya lebih menunjukkan keheranan saat Leo menatapnya tajam, setajam silet. Tatapan Leo berkata, I will kill you.   

Ilsa tersenyum, ia mencoba memahami maksud kedatangan Leo namun tidak yakin dengan jalan pikirannya sendiri. Satu-satunya yang ada dipikiran Ilsa mengenai Leo adalah dia berada di posisi dibawahnya dalam setiap hasil ujian eksakta dan Leo tidak puas. 

Meskipun demikian, masa iya Leo datang karena itu? Leo juara satu dalam olahraga, pelajaran bahasa dan seni. Namanya bertengger di posisi puncak di pengumuman ujian tengah semester X. Berapa banyak lagi medali yang perlu ia klaim untuk memuaskan self-esteemnya?

Leo mengedut, senyuman Ilsa diartikan sebagai, ‘kill me if you can!’ “Aku ingin bertanya, apa kamu curang dalam ujian eksakti tengah semester kemarin?”tanya Leo.

Ilsa menggeleng. Leo menghela nafas. Hening sesaat.

Ilsa menatapnya tajam langsung ke mata Leo. “Hey, apa aku menyakitimu dengan menjadi nomor satu dalam ujian eksakta? Kamu menjadi nomor satu dalam hasil ujian yang lain kan?”tanya Ilsa
.
Leo mendengus. “Aku ingin selalu menjadi nomor satu dalam semua hal, jadi menyingkirlah!”jawab Leo tegas.

Ilsa seketika menatap tajam kearah Leo. Tidak pernah dalam hidupnya ada seorang pria yang menantang dirinya. Darah Ilsa berdesir. Ia seperti seorang pemburu yang tengah berburu, dan targetnya kali ini sangat licik, pintar, sulit didapat dan begitu ia inginkan.

Ilsa tersenyum, matanya bercahaya.

Leo menangkap semacam gairah yang sangat besar dimatanya. Antara sungkan dan tertantang, Leo menerima tatapan tajam Ilsa dan membalasnya dengan tatapan yang setajam mungkin. Bagi Leo, tidak pernah ada seorang gadis yang dapat membuat darahnya berdesir dan jantungnya berdegup secepat itu.
Ilsa begitu penuh dengan percaya diri. Begitu yakin bisa mengalahkan Leo. Keyakinan yang perlu Leo BASMI seperti kecoak di kamar mandi.

“Aku tidak akan menyingkir. Kamulah yang harus menyingkir,”jawab Ilsa. Leo mendengus sambil meninggalkannya.

Ilsa menatap punggung Leo sampai pemuda itu diluar jangkauan pandangannya. Seketika udara disekeliling Ilsa menjadi lebih teduh seiring kepergian Leo. Tadi itu entah kenapa udaranya jadi pengab dan panas.

Tiba-tiba seorang teman Ilsa berbisik kepadanya, “HE IS SOOO HOT!”katanya.

Ilsa tertawa, “ya, dan arogan juga!”tambah Ilsa.

Ilsa dan Leo tidak pernah berbicara lagi setelah itu.

Meskipun demikian keduanya saling mengawasi satu sama lain. Ilsa mulai mengumpulkan informasi tentang Leo. Ia sering melihat Leo membaca di sudut kelas bersama beberapa sahabatnya. Ia seorang pria yang rajin, darah Ilsa berdesir, Ia begitu takut kehilangan medali eksaktanya sekaligus merasa Leo adalah tantangan menarik yang harus ia lampaui. Tantangan yang hot!

Leo pun seringkali mengawasi Ilsa. Ilsa seringkali terlihat melatih kemampuan logikanya. Leo jadi takut kemampuannya terlampaui setiap kali melihat Ilsa belajar. Ilsa juga sering terlihat makan batagor dan bersosialisasi. Untuk yang ingin, Leo tidak takut untuk melihatnya.

Tak terasa ujian akhir semester 1 kelas X sudah hampir tiba. Leo belajar hingga larut malam. Ia ingin sempurna! Sempurna!

Kantung matanya semakin tebal .

Beberapa hari menjelang ujian Matematika dan Eksakta, Kayla menghampirinya. Gadis cantik itu membawa satu botol cola. “Hey ada titipan dari kelas X-F,”kata Kayla sambil menyerahkan satu botol cola itu.

Leo mengernyit. “Aku tidak punya teman anak kelas X-F.”

“Miungkin bukan teman, mungkin calon pacar,”tawa Oliver.Kayla dan Oliver tertawa puas sambil toast.

Leo mengernyit tidak mengerti, “huh? Dari siapa?”

“Pacarmu, Ilsa!”seru Kayla menegaskan.

Leo tersenyum kecut. “Dia bukan pacarku.”

“Apa bedanya? Kamu memikirkannya sepanjang hari, siang dan malam,”balas Oliver. Kayla tertawa.

Leo mendengus. Ia mengambil botol cola tersebut. Ada kertas post-it notes tertempel. Kertas itu bertuliskan, “Selamat berjuang, Leo!”

Leo tersenyum.

Eeeh! Ada tulisan lagi dibawahnya.

“Ps: tapi akulah yang nomor satu!”

Leo mendengus kesal.

Esoknya, Ilsa mendapatkan kiriman satu paket batagor dengan post-it notes yang sama.

“Selamat berjuang, Ilsa.

PS: TAPI AKULAH YANG NOMOR 1!”

Ilsa tertawa. Ia menyimpan kertas post-it notesnya dan memakan batagor tersebut meskipun ia khawatir batagornya beracun. Pantang baginya menolak makanan yang disediakan musuhnya, itu pertanda ia seorang gadis pengecut. Ilsa bukan pengecut

Ujian pun dimulai

Dan pengumuman ujian pun disebar. Inilah hasilnya:
Matematika:      1. Leo
                                2. Ilsa
Kimia:                    1. Ilsa
``                             2. Leo
Fisika:                    1. Ilsa
                                2. Leo 

Ilsa dan Leo sama-sama menghitung skor mereka. Ilsa tersenyum puas. Ia masih berhasil mengungguli Leo meskipun harus menyerahkan posisi nomor satunya dalam Matematika.

Selepas ujian, SMA The Prestige High School libur akhir semester selama dua minggu. Murid-murid kelas satu sangat senang dengan hal itu. Di Hari Jumat, hari terakhir mereka sekolah sebelum libur dua minggu mereka ke sekolah hanya untuk melihat hasil ujian.   

Leo bertemu kembali dengan Ilsa di depan papan pengumuman ujian. Tidak banyak siswa yang berlama-lama melihat papan pengumuman ujian. Mereka lebih senang main futsal di lapangan, atau bergosip dengan teman-temannya di sudut-sudut sekolah.

Ilsa sedang mencatat skor ujiannya. Leo bisa melihat dari papan pengumuman, Ilsa tidak terlalu pintar dalam pelajaran apapun kecuali eksakta.

“Hei,”sapa Leo.

Ilsa menatapnya. Lalu tersenyum. “HEI,”sapa Ilsa balik. Hening. “Aku masih menang,”kata Ilsa lagi.

“Ya, kuakui itu. Kamu orang yang sulit dikalahkan,”kata Leo. Ilsa memulas bibirnya dengan senyum tipis, setipis jarring laba-laba.

“Apakah itu pujian?”tanya Ilsa.

Leo menatapnya tajam. “Ya, kamu pintar dan jujur saja, aku merasa tertantang saat bersama denganmu,”kata Leo.

“Ohh… semoga itu berarti sesuatu,”kata Ilsa setengah menggoda. Leo tertawa. Ilsa senang melihat Leo tertawa, untuk pertama kalinya ia mengendurkan urat lehernya saat menatap Leo.

“Aku juga merasa tertantang saat bersama denganmu,”ujar Ilsa mengakui. Leo menatapnya. Ilsa jadi kembali merasa udara disekitar dirinya memanas. Seakan ia berteleportasi ke inti matahari.  “Aku suka itu,”tambah Ilsa malu-malu.

Leo menunduk, memandang lantai tempat ia berpijak. Berharap ia benar-benar masih memijak lantai. Untuk pertama kalinya ada seorang gadis yang berkata ‘suka’ dengannya. Leo tidak tahu harus bereaksi bagaimana, tapi ia menyukai itu.

Untuk pertama kalinya Ilsa melihat Leo menunduk, biasanya kepalanya tegak lurus atau mendongak. "Aku juga suka itu,”ujar Leo mengakuinya. Siapapria yang tidak suka pada gadis yang dapat menarik perhatiannya siang dan malam dan membuat darahnya berdesir?

Leo dan Ilsa tersenyum malu-malu sambil menatap satu sama lain. Leo yang kembali memulai percakapan, “mau kutraktir batagor?”tawarnya.

IIsa tersenyum, “Aku suka batagor.”
Ya aku tahu itu!”tandas Leo.

“Apa kamu tahu kita sama-sama seorang yang ambisius?”tanya Ilsa.

“Ya, itu adalah hal yang sama dari kita. Yang menyatukan kita, yang membuat kita berjalan beriringan ke kantin,”jawab Leo setengah tertawa.

Ilsa tidak berkata apa-apa, ia hanya tahu darahnya berdesir dan jantungnya berdetak cepat saat ia berada disisi Leo. 

TAMAT

Tidak ada komentar:

Posting Komentar