Minggu, 28 Juni 2015

Selfie

Hari ini sungguh hari yang berawan! Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi namun Oliver Laurent tidak kunjung kekelas, Malah, ia berada di park bench, kursi taman, duduk sambil bersantai memandang langit temaram.  Banyak orang yang lebih suka memandang langit disaat cerah, namun Oliver lebih suka angin  yang mendung, rasanya jadi membuat hati ini galau. #Eaa!

Disamping Oliver ada handphonenya yang terus berdering. Tidak perlu melihat layar Oliver tahu itu dari Leo.  Sahabat barunya itu sangat rajin belajar, ia pasti akan memarahi Oliver bila tahu Oliver tidak dikelas mengikuti pelajaran hanya untuk menikmati udara pagi yang mendung dan hampir hujan. Orang serius macam Leo tidak akan pernah mengerti kesenangan melakukan siesta seperti sekarang. Ia hanya tahu belajar dan belajar.

Meskipun demikian, Leo adalah sat satunya orang yang mau berada di dekatnya. Lagpula bukan hanya dia yang terlalu serius, seluruh seklah ini sepertinya terdiri dari sekumpulan orang – orang membosankan. Buktiya mreka lebih memilih duduk dikelas, mendengarkan penjelasa guru yang membosankan dibandingkan bermain ditaman yang mendung ini.

Oliver berbaring santai di bangku taman. “Hei, apa yang kau lakukan disana?”tanya sebuah suara  nyaring dan tinggi. Oliver mengerjap, ketahuan kabur dari kelas! Siapa dia? ibu guru? Guru bk? Atau petugas sekolah? Ah… paling ia akan diseret lagi ke ruang BK dan diberi penjelasan bagaimana caranya selamat di bangku SMA. Santai! Ia sudah berada di ruang terkutuk itu tiga kali. Tidak masalah kalau ini yag keempat! Alih alih bangkit, Oliver masih saja tiduran di bangku taman.

Terdengar suara langkah kaki mendekat. “Hei, apa yang kau lakukan disini?”tanya sebuah suara memergoki Oliver yang tengah berbaring. Oliver melihat gadis itu, ia mengenakan seragam The Prestige High School. Ah, ternyata sesama murid kelas X juga! Di lehernya ada kamera SLR. Gadis itu memincingkan matanya seakan tidak suka dengan kehadiran Oliver. Oliver memperhatikan gadis itu dengan seksama. Matanya, hidungnya, bibirnya, rambutnya, bentuk tubuhnya semua biasa saja. Meskipun demikian bila dilihat secara keseluruhan, gadis ini sangat menarik. Bagaimana hal itu bisa terjadi?

Oliver tersenyum kearahnya, ia menyukai semua jenis wnita, termasuk wanita yang ini. “Apa yang ku lakukan disini? Oh Well, apa yang kau lakukan disini?”tanya Oliver balik. Bibir gadis itu menyungging senyum, namun tak mampu meraih matanya. Ia hanya … tersenyum dangkal.

“Slack at school,”senyum gadis itu setengah menyindir.

“Kalau begitu aku juga,”kata Oliver.

Gadis itu mengambil tempat duduk disamping Oliver. Jengah, Oliver langsung bangkit dari pembaringannya dan ikut duduk disamping gadis itu. Gadis itu tampak sangat serius memainkan kamera SLRnya. “Namaku Oliver,”kata Oliver mencoba membuka percakapan.

“Oh halo Oliver. Senang mengenalmu,”kata Gadis itu. Logatnya agak melengking seperti sang ratu memberi perintah pada budaknya, bahkan walaupun itu bukan kalimat seru.  Gadis itu mengutak-atik kameranya.

“Namamu siapa gadis cantik?”kata Oliver.

Gadis itu mengernyit, ia menatap Oliver, “namaku Inez. Dan aku tidak cantik,”kata Inez.

Oliver mengerjap, untuk pertama kalinya ada gadis yang menolak dianggap cantik oleh seorang pria.

“Lalu untuk apa kamu memotret?”tanya Oliver.

Inez berpikir sejenak, “entahlah aku suka saja, menangkap setiap keindahan dari objek objek yang ada disekitarku,”kata Inez.

“Kamu tidak pernah memotret dirimu sendiri?”tanya Oliver. Inez tersenyum malu, lalu menggeleng kepala. “Kenapa?”tanya Oliver. Inez hanya menggeleng dan menghela nafas sambil tersenyum maklum.

Oliver mendekati Inez, ia menatap Inez dengan kedua matanya lekat-lekat namun tidak cukup tajam untuk membunuh gadis itu. Inez menatapnya balik. Gadis itu tertegun. Ada rasa takut dan canggung di matanya. Mulutnya kesulitan menelan ludah.

Perlahan, Oliver mengambil kamera Inez, tidak bermaksud untuk mencurinya.

Oliver meletakkan tangan di kepala Inez, merapikan rambutnya. Inez bisa merasakan sentuhan tangan Oliver yang lembut. Oliver lalu menyetel kamer SLR Inez. “Lihat kesini ya, senyum….!”seru Oliver lalu memotret Inez, mencoba menangkap keindahan dari objek potretnya: matanya, senyum canggungnya, rambutnya yang tidak terlalu rapi. Namun ekspresinya yang malu-malu lah  yang membuat Oliver terpesona. 

Oliver memotret Inez.  

“Sudah,”kata Oliver. Ia mengembalikan kamera tersebut pada Inez. Inez mengambilnya. “Bagaimana hasil potretku?”tanya Oliver. Inez menatap sebuah foto ekspresi dirinya yang malu-malu, tidak buruk. 

“Tidak buruk, apa kamu suka memotret juga?”tanya Inez.

Oliver hanya mendengus, “ah… aku hanya mencoba menangkap keindahan objek, seperti yang kamu lakukan,”kata Oliver.

Inez tertawa, “sungguhkah?”

Oliver mendekati Inez hingga mereka hanya berjarak 5 sentimeter. Inez bahkan bisa merasakan deruan nafas Oliver, “lihat, kamu cantik kan,”kata Oliver. Inez tersenyum.

“Kamu tampan sekali ya Oliver, dan pandai merayu,”kata Inez.

Oliver tersenyum, “well thank you.”

“Aku tahu kamu seorang playboy, kita baru enam bulan bersekolah disini tapi kamu sudah punya tujuh mantan pacar. Aku tidak akan pernah terpikat olehmu,”kata Inez.

Oliver tertawa, witty! Inez gadis yang witty, terus terang dan hal itu tidak membuat Oliver tersinggung sama sekali. Justru membuatnya makin ingin memiliki Inez. “Tidak akan itu kata yang menyakitkan, jangan pernah bilang tidak akan, kita tidak pernah tahu apa yang terjadi di masa depan,”kata Oliver.   

“Memang, tapi aku tahu beberapa hal yang pasti terjadi. Aku selalu yakin pada diriku sendiri,”kata Inez. Oliver tertawa. Inez bangkit dari duduknya, “Good bye, Oliver,”kata Inez.

Oliver mengernyit, “buru-buru amat, mau kemana?”tanya Oliver.

“Menghindari kejaran Kepala Sekolah,”kata Inez sambil  menunjuk seorang wanita tua yang tengah menatap mereka marah. 

“Hei kalian! Siapa nama kalian?! Dari kelas mana??! Jangan kabur ya!”serunya. kalimat wanita tua yang terakhir itu malah semakin menegaskan alasan Oliver untuk segera beranjak dari duduknya.

“Uh oh … kau benar, ini saatnya untuk lari,”seru  Oliver dan keduanya pun berlari, teru berlari.  Oliver terus mencari kesempatan untuk bertemu kembali dengan Inez, menurutnya gadis yang ini sangat unik dan percaya pada dirinya senduru namun tidak pernah berhasil.


The end

Daftar Pustaka

Tidak ada komentar:

Posting Komentar