Hari ini sungguh hari yang berawan! Jam sudah menunjukkan
pukul sepuluh pagi namun Oliver Laurent tidak kunjung kekelas, Malah, ia berada
di park bench, kursi taman, duduk sambil bersantai memandang langit
temaram. Banyak orang yang lebih suka
memandang langit disaat cerah, namun Oliver lebih suka angin yang mendung, rasanya jadi membuat hati ini
galau. #Eaa!
Disamping Oliver ada handphonenya yang terus berdering.
Tidak perlu melihat layar Oliver tahu itu dari Leo. Sahabat barunya itu sangat rajin belajar, ia
pasti akan memarahi Oliver bila tahu Oliver tidak dikelas mengikuti pelajaran
hanya untuk menikmati udara pagi yang mendung dan hampir hujan. Orang serius
macam Leo tidak akan pernah mengerti kesenangan melakukan siesta seperti
sekarang. Ia hanya tahu belajar dan belajar.
Meskipun demikian, Leo adalah sat satunya orang yang mau
berada di dekatnya. Lagpula bukan hanya dia yang terlalu serius, seluruh seklah
ini sepertinya terdiri dari sekumpulan orang – orang membosankan. Buktiya mreka
lebih memilih duduk dikelas, mendengarkan penjelasa guru yang membosankan dibandingkan
bermain ditaman yang mendung ini.
Oliver berbaring santai di bangku taman. “Hei, apa yang kau
lakukan disana?”tanya sebuah suara
nyaring dan tinggi. Oliver mengerjap, ketahuan kabur dari kelas! Siapa
dia? ibu guru? Guru bk? Atau petugas sekolah? Ah… paling ia akan diseret lagi ke
ruang BK dan diberi penjelasan bagaimana caranya selamat di bangku SMA. Santai!
Ia sudah berada di ruang terkutuk itu tiga kali. Tidak masalah kalau ini yag
keempat! Alih alih bangkit, Oliver masih saja tiduran di bangku taman.
Terdengar suara langkah kaki mendekat. “Hei, apa yang kau
lakukan disini?”tanya sebuah suara memergoki Oliver yang tengah berbaring. Oliver
melihat gadis itu, ia mengenakan seragam The Prestige High School. Ah, ternyata
sesama murid kelas X juga! Di lehernya ada kamera SLR. Gadis itu memincingkan matanya
seakan tidak suka dengan kehadiran Oliver. Oliver memperhatikan gadis itu
dengan seksama. Matanya, hidungnya, bibirnya, rambutnya, bentuk tubuhnya semua
biasa saja. Meskipun demikian bila dilihat secara keseluruhan, gadis ini sangat
menarik. Bagaimana hal itu bisa terjadi?
Oliver tersenyum kearahnya, ia menyukai semua jenis wnita,
termasuk wanita yang ini. “Apa yang ku lakukan disini? Oh Well, apa yang kau
lakukan disini?”tanya Oliver balik. Bibir gadis itu menyungging senyum, namun
tak mampu meraih matanya. Ia hanya … tersenyum dangkal.
“Slack at
school,”senyum gadis itu setengah menyindir.
“Kalau begitu aku juga,”kata Oliver.
Gadis itu mengambil tempat duduk disamping Oliver. Jengah, Oliver
langsung bangkit dari pembaringannya dan ikut duduk disamping gadis itu. Gadis
itu tampak sangat serius memainkan kamera SLRnya. “Namaku Oliver,”kata Oliver
mencoba membuka percakapan.
“Oh halo Oliver. Senang mengenalmu,”kata Gadis itu. Logatnya
agak melengking seperti sang ratu memberi perintah pada budaknya, bahkan
walaupun itu bukan kalimat seru. Gadis
itu mengutak-atik kameranya.
“Namamu siapa gadis cantik?”kata Oliver.
Gadis itu mengernyit, ia menatap Oliver, “namaku Inez. Dan
aku tidak cantik,”kata Inez.
Oliver mengerjap, untuk pertama kalinya ada gadis yang
menolak dianggap cantik oleh seorang pria.
“Lalu untuk apa kamu memotret?”tanya Oliver.
Inez berpikir sejenak, “entahlah aku suka saja, menangkap
setiap keindahan dari objek objek yang ada disekitarku,”kata Inez.
“Kamu tidak pernah memotret dirimu sendiri?”tanya Oliver. Inez
tersenyum malu, lalu menggeleng kepala. “Kenapa?”tanya Oliver. Inez hanya
menggeleng dan menghela nafas sambil tersenyum maklum.
Oliver mendekati Inez, ia menatap Inez dengan kedua matanya
lekat-lekat namun tidak cukup tajam untuk membunuh gadis itu. Inez menatapnya
balik. Gadis itu tertegun. Ada rasa takut dan canggung di matanya. Mulutnya
kesulitan menelan ludah.
Perlahan, Oliver mengambil kamera Inez, tidak bermaksud
untuk mencurinya.
Oliver meletakkan tangan di kepala Inez, merapikan
rambutnya. Inez bisa merasakan sentuhan tangan Oliver yang lembut. Oliver lalu
menyetel kamer SLR Inez. “Lihat kesini ya, senyum….!”seru Oliver lalu memotret Inez,
mencoba menangkap keindahan dari objek potretnya: matanya, senyum canggungnya,
rambutnya yang tidak terlalu rapi. Namun ekspresinya yang malu-malu lah yang membuat Oliver terpesona.
Oliver memotret Inez.
“Sudah,”kata Oliver.
Ia mengembalikan kamera tersebut pada Inez. Inez mengambilnya. “Bagaimana hasil
potretku?”tanya Oliver. Inez menatap sebuah foto ekspresi dirinya yang
malu-malu, tidak buruk.
“Tidak buruk, apa kamu suka memotret juga?”tanya Inez.
Oliver hanya
mendengus, “ah… aku hanya mencoba menangkap keindahan objek, seperti yang kamu
lakukan,”kata Oliver.
Inez tertawa, “sungguhkah?”
Oliver mendekati Inez hingga mereka hanya berjarak 5
sentimeter. Inez bahkan bisa merasakan deruan nafas Oliver, “lihat, kamu cantik
kan,”kata Oliver. Inez tersenyum.
“Kamu tampan sekali ya Oliver, dan pandai merayu,”kata Inez.
Oliver tersenyum, “well thank you.”
“Aku tahu kamu seorang playboy, kita baru enam bulan bersekolah
disini tapi kamu sudah punya tujuh mantan pacar. Aku tidak akan pernah terpikat
olehmu,”kata Inez.
Oliver tertawa, witty! Inez gadis yang witty, terus terang
dan hal itu tidak membuat Oliver tersinggung sama sekali. Justru membuatnya makin
ingin memiliki Inez. “Tidak akan itu kata yang menyakitkan, jangan pernah
bilang tidak akan, kita tidak pernah tahu apa yang terjadi di masa depan,”kata Oliver.
“Memang, tapi aku tahu beberapa hal yang pasti terjadi. Aku
selalu yakin pada diriku sendiri,”kata Inez. Oliver tertawa. Inez bangkit dari
duduknya, “Good bye, Oliver,”kata Inez.
Oliver mengernyit, “buru-buru amat, mau kemana?”tanya Oliver.
“Menghindari kejaran Kepala Sekolah,”kata Inez sambil menunjuk seorang wanita tua yang tengah
menatap mereka marah.
“Hei kalian! Siapa nama kalian?! Dari kelas mana??!
Jangan kabur ya!”serunya. kalimat wanita tua yang terakhir itu malah semakin
menegaskan alasan Oliver untuk segera beranjak dari duduknya.
“Uh oh … kau benar, ini saatnya untuk lari,”seru Oliver dan keduanya pun berlari, teru
berlari. Oliver terus mencari kesempatan
untuk bertemu kembali dengan Inez, menurutnya gadis yang ini sangat unik dan
percaya pada dirinya senduru namun tidak pernah berhasil.
The end
Daftar Pustaka

Tidak ada komentar:
Posting Komentar