Rabu, 05 Agustus 2015

Dear Mama


Dear Mama,
Sulit untuk tumbuh dewasa.
Aku tidak mengerti kenapa setiap anak-anak harus tumbuh dewasa.
Rasanya aneh saat tubuhku jadi tinggi dan suaraku jadi berat.
Rasanya jadi aneh saat aku bergantung pada alat cukur setiap beberapa hari.
Rasanya jadi aneh saat ada janggut dan kumis tumbuh di wajahku.
Rasanya jadi aneh saat aku tiba-tiba butuh deodoran dan obat anti jerawat.
Rasanya jadi aneh saat gadis-gadis terlihat begitu menarik.
Rasanya jadi aneh saat teman-teman mulai membicarakan masa depan.
Rasanya jadi aneh saat menantang guru, melanggar hukum dan melawan papa menjadi hal yang menarik untuk dicoba.

Rasanya jadi aneh saat aku melaluinya seorang diri.

Oh mama, andai saja engkau masih ada disini, menjelaskan semua keanehan ini.

Mungkin aku tidak akan merasa aneh lagi. 

Kamis, 09 Juli 2015

The Thing We Shared


Tidak ada yang dapat menghentikan Leo
Ia selalu medapatkan apa yang ia inginkan
Murid lain seringkali merasa kagum dengan pencapaian yang ia dapatkan
Ia ambisius, cerdas, pekerja keras dan cukup atletis
Bagian terburuknya, ia tidak pernah merasa puas
Lebih hebat lagi, lebih sempurna lagi!
Sempurna… sempurna… sempurna…
Tidak boleh lengah, tidak boleh kalah.
Menyingkirlah kalian! Akulah yang nomor satu! 
Dan biasanya ia selalu berhasil
Biasanya
                                                                           
Meskipun demikian kali ini tidak begitu
Ada seorang gadis yang mencuri kemenangannya
Tidak boleh ada satu orang pun yang mencuri kemenanganku

Adalah Ilsa Herman pelakunya
Pencuri! Pikir Leo.
Ia tidak percaya akan hasil akhir ujian matematika di sekolah semester satu   
Leo berada di posisi kedua untuk ingkat satu sekolah.
Hal yang sama terjadi pada hasil akhir ujian Fisika dan Kimia
Leo berada di posisi kedua untuk tingkat satu sekolah
Posisi pertamanya dipegang oleh Ilsa Herman
Tidak boleh ada satu orang pun yang mencuri kemenanganku
Setelah hasil ujian kimia diumumkan, Leo gelisah.
Ia ingin mencari tahu sosok Ilsa Herman

“Untuk apa? Kamu nomor satu di pelajaran sastra, nomor satu dipelajaran olahraga. Untuk apa kamu juga ingin menjadi nomor satu dipelajaran eksakta?”tanya Oliver, sahabatnya.

“Kamu tidak bisa menjadi nomor satu dalam semua hal,”kata Kayla, sahabatnya yang lain
  
Leo justru semakin gelisah.

“Aku hanya ingin tahu siapa itu Ilsa Herman!”seru Leo keras kepala.

“Hanya?”tanya Kayla menggoda.

“Hanya!”tandas Oliver mengejek.

Tidak ada satupun siswa kelas X yang mengenal seluruh siswa kelas X. Dalam hubungan interpersonal, mereka biasanya membentuk kelompok 3-6 orang dan tidak peduli apa yang terjadi pada siswa diluar kelompok mereka.

Leo juga demikian, ia tidak mengenal seluruh anggota kelas X. Walaupun begitu, dengan pencarian ekstensif dan bantuan dari Kayla, sahabatnya yang punya banyak kenalan. Ia berhasil mengetahui sosok Ilsa Herman.

Awalnya Leo berpikir, Ilsa Herman adalah gadis kelas X yang mad-scientist! Ia berambut berantakan, bermata besar dan memakai kacamata tebal.

Leo salah… lagi!

Ilsa Herman adalah gadis yang tinggi, kurus dengan tulang pipi yang tinggi, mata kecil yang tajam, tidak memakai kacamata, bibir yang kecil dan bila tersenyum, senyumnya seperti Monalisa. Kamu tidak tahu apakah ia benar-benar tersenyum atau Cuma efek cahaya. 

Ilsa bergaul dengan sejumlah gadis dan beberapa siswa laki-laki. Ia berasal dari kelas X-F, enam kelas jauhnya dari kelas Leo, X-A.

Leo menghampiri Ilsa saat ia punya waktu di jam istirahat siang pukul 12. Saat itu matahari sedang menyinari bumi dengan seluruh panas yang bisa ia gunakan. Ilsa sedang memakan batagor dengan beberapa orang gadis. Ia tidak tahu Leo akan menghampirinya.

“Halo, Ilsa ya! Perkenalkan, saya Leo dari kelas X-A,”kata Leo memperkenalkan diri. Ilsa menatapnya dingin selama beberapa detik namun Leo tidak canggung dibuatnya. Hanya lelaki lemah yang canggung berkenalan dengan seorang gadis.

“Oh, halo,”kata Ilsa membalas sapaannya Leo. “ada perlu apa?”tanyanya sambil menaikkan alis. Tatapan ilsa padanya lebih menunjukkan keheranan saat Leo menatapnya tajam, setajam silet. Tatapan Leo berkata, I will kill you.   

Ilsa tersenyum, ia mencoba memahami maksud kedatangan Leo namun tidak yakin dengan jalan pikirannya sendiri. Satu-satunya yang ada dipikiran Ilsa mengenai Leo adalah dia berada di posisi dibawahnya dalam setiap hasil ujian eksakta dan Leo tidak puas. 

Meskipun demikian, masa iya Leo datang karena itu? Leo juara satu dalam olahraga, pelajaran bahasa dan seni. Namanya bertengger di posisi puncak di pengumuman ujian tengah semester X. Berapa banyak lagi medali yang perlu ia klaim untuk memuaskan self-esteemnya?

Leo mengedut, senyuman Ilsa diartikan sebagai, ‘kill me if you can!’ “Aku ingin bertanya, apa kamu curang dalam ujian eksakti tengah semester kemarin?”tanya Leo.

Ilsa menggeleng. Leo menghela nafas. Hening sesaat.

Ilsa menatapnya tajam langsung ke mata Leo. “Hey, apa aku menyakitimu dengan menjadi nomor satu dalam ujian eksakta? Kamu menjadi nomor satu dalam hasil ujian yang lain kan?”tanya Ilsa
.
Leo mendengus. “Aku ingin selalu menjadi nomor satu dalam semua hal, jadi menyingkirlah!”jawab Leo tegas.

Ilsa seketika menatap tajam kearah Leo. Tidak pernah dalam hidupnya ada seorang pria yang menantang dirinya. Darah Ilsa berdesir. Ia seperti seorang pemburu yang tengah berburu, dan targetnya kali ini sangat licik, pintar, sulit didapat dan begitu ia inginkan.

Ilsa tersenyum, matanya bercahaya.

Leo menangkap semacam gairah yang sangat besar dimatanya. Antara sungkan dan tertantang, Leo menerima tatapan tajam Ilsa dan membalasnya dengan tatapan yang setajam mungkin. Bagi Leo, tidak pernah ada seorang gadis yang dapat membuat darahnya berdesir dan jantungnya berdegup secepat itu.
Ilsa begitu penuh dengan percaya diri. Begitu yakin bisa mengalahkan Leo. Keyakinan yang perlu Leo BASMI seperti kecoak di kamar mandi.

“Aku tidak akan menyingkir. Kamulah yang harus menyingkir,”jawab Ilsa. Leo mendengus sambil meninggalkannya.

Ilsa menatap punggung Leo sampai pemuda itu diluar jangkauan pandangannya. Seketika udara disekeliling Ilsa menjadi lebih teduh seiring kepergian Leo. Tadi itu entah kenapa udaranya jadi pengab dan panas.

Tiba-tiba seorang teman Ilsa berbisik kepadanya, “HE IS SOOO HOT!”katanya.

Ilsa tertawa, “ya, dan arogan juga!”tambah Ilsa.

Ilsa dan Leo tidak pernah berbicara lagi setelah itu.

Meskipun demikian keduanya saling mengawasi satu sama lain. Ilsa mulai mengumpulkan informasi tentang Leo. Ia sering melihat Leo membaca di sudut kelas bersama beberapa sahabatnya. Ia seorang pria yang rajin, darah Ilsa berdesir, Ia begitu takut kehilangan medali eksaktanya sekaligus merasa Leo adalah tantangan menarik yang harus ia lampaui. Tantangan yang hot!

Leo pun seringkali mengawasi Ilsa. Ilsa seringkali terlihat melatih kemampuan logikanya. Leo jadi takut kemampuannya terlampaui setiap kali melihat Ilsa belajar. Ilsa juga sering terlihat makan batagor dan bersosialisasi. Untuk yang ingin, Leo tidak takut untuk melihatnya.

Tak terasa ujian akhir semester 1 kelas X sudah hampir tiba. Leo belajar hingga larut malam. Ia ingin sempurna! Sempurna!

Kantung matanya semakin tebal .

Beberapa hari menjelang ujian Matematika dan Eksakta, Kayla menghampirinya. Gadis cantik itu membawa satu botol cola. “Hey ada titipan dari kelas X-F,”kata Kayla sambil menyerahkan satu botol cola itu.

Leo mengernyit. “Aku tidak punya teman anak kelas X-F.”

“Miungkin bukan teman, mungkin calon pacar,”tawa Oliver.Kayla dan Oliver tertawa puas sambil toast.

Leo mengernyit tidak mengerti, “huh? Dari siapa?”

“Pacarmu, Ilsa!”seru Kayla menegaskan.

Leo tersenyum kecut. “Dia bukan pacarku.”

“Apa bedanya? Kamu memikirkannya sepanjang hari, siang dan malam,”balas Oliver. Kayla tertawa.

Leo mendengus. Ia mengambil botol cola tersebut. Ada kertas post-it notes tertempel. Kertas itu bertuliskan, “Selamat berjuang, Leo!”

Leo tersenyum.

Eeeh! Ada tulisan lagi dibawahnya.

“Ps: tapi akulah yang nomor satu!”

Leo mendengus kesal.

Esoknya, Ilsa mendapatkan kiriman satu paket batagor dengan post-it notes yang sama.

“Selamat berjuang, Ilsa.

PS: TAPI AKULAH YANG NOMOR 1!”

Ilsa tertawa. Ia menyimpan kertas post-it notesnya dan memakan batagor tersebut meskipun ia khawatir batagornya beracun. Pantang baginya menolak makanan yang disediakan musuhnya, itu pertanda ia seorang gadis pengecut. Ilsa bukan pengecut

Ujian pun dimulai

Dan pengumuman ujian pun disebar. Inilah hasilnya:
Matematika:      1. Leo
                                2. Ilsa
Kimia:                    1. Ilsa
``                             2. Leo
Fisika:                    1. Ilsa
                                2. Leo 

Ilsa dan Leo sama-sama menghitung skor mereka. Ilsa tersenyum puas. Ia masih berhasil mengungguli Leo meskipun harus menyerahkan posisi nomor satunya dalam Matematika.

Selepas ujian, SMA The Prestige High School libur akhir semester selama dua minggu. Murid-murid kelas satu sangat senang dengan hal itu. Di Hari Jumat, hari terakhir mereka sekolah sebelum libur dua minggu mereka ke sekolah hanya untuk melihat hasil ujian.   

Leo bertemu kembali dengan Ilsa di depan papan pengumuman ujian. Tidak banyak siswa yang berlama-lama melihat papan pengumuman ujian. Mereka lebih senang main futsal di lapangan, atau bergosip dengan teman-temannya di sudut-sudut sekolah.

Ilsa sedang mencatat skor ujiannya. Leo bisa melihat dari papan pengumuman, Ilsa tidak terlalu pintar dalam pelajaran apapun kecuali eksakta.

“Hei,”sapa Leo.

Ilsa menatapnya. Lalu tersenyum. “HEI,”sapa Ilsa balik. Hening. “Aku masih menang,”kata Ilsa lagi.

“Ya, kuakui itu. Kamu orang yang sulit dikalahkan,”kata Leo. Ilsa memulas bibirnya dengan senyum tipis, setipis jarring laba-laba.

“Apakah itu pujian?”tanya Ilsa.

Leo menatapnya tajam. “Ya, kamu pintar dan jujur saja, aku merasa tertantang saat bersama denganmu,”kata Leo.

“Ohh… semoga itu berarti sesuatu,”kata Ilsa setengah menggoda. Leo tertawa. Ilsa senang melihat Leo tertawa, untuk pertama kalinya ia mengendurkan urat lehernya saat menatap Leo.

“Aku juga merasa tertantang saat bersama denganmu,”ujar Ilsa mengakui. Leo menatapnya. Ilsa jadi kembali merasa udara disekitar dirinya memanas. Seakan ia berteleportasi ke inti matahari.  “Aku suka itu,”tambah Ilsa malu-malu.

Leo menunduk, memandang lantai tempat ia berpijak. Berharap ia benar-benar masih memijak lantai. Untuk pertama kalinya ada seorang gadis yang berkata ‘suka’ dengannya. Leo tidak tahu harus bereaksi bagaimana, tapi ia menyukai itu.

Untuk pertama kalinya Ilsa melihat Leo menunduk, biasanya kepalanya tegak lurus atau mendongak. "Aku juga suka itu,”ujar Leo mengakuinya. Siapapria yang tidak suka pada gadis yang dapat menarik perhatiannya siang dan malam dan membuat darahnya berdesir?

Leo dan Ilsa tersenyum malu-malu sambil menatap satu sama lain. Leo yang kembali memulai percakapan, “mau kutraktir batagor?”tawarnya.

IIsa tersenyum, “Aku suka batagor.”
Ya aku tahu itu!”tandas Leo.

“Apa kamu tahu kita sama-sama seorang yang ambisius?”tanya Ilsa.

“Ya, itu adalah hal yang sama dari kita. Yang menyatukan kita, yang membuat kita berjalan beriringan ke kantin,”jawab Leo setengah tertawa.

Ilsa tidak berkata apa-apa, ia hanya tahu darahnya berdesir dan jantungnya berdetak cepat saat ia berada disisi Leo. 

TAMAT

Senin, 29 Juni 2015

The Hat

Ini hari Senin pagi, dan setiap hari Senin pagi selalu ada upacara pagi. Setiap ada upacara pagi, disitu ada pemeriksaan kelengkapan seragam sekolah seperti seragam, sabuk pinggang, badge, sepatu dan topi sekolah. Bila ada satu saja kelegkapan sekolah yang lupa dipakai, sanksinya adalah dipajang di lapangan upacara selama upacara berlangsung. Oh yeah, guru-guru selalu tahu bagaimana cara menghukum muridnya.

Beberapa siswa beruntung mempersiapkan semua kelengkapan sekolah dengan baik. Beberapa siswa yang cukup beruntung menyadari ketidaklengkapan atribut sekolahnya dan memilih untuk melengkapinya dengan membeli yang baru di koperasi sekolah. Meskipun demikian selalu ada siswa yang amat sangat tidak beruntung yang baru menyadari ketidaklengkapan atribut pakaiannya kurang dari lima menit sebelum upacara di mulai.

Gea salah satunya, gadis manis berambut lurus panjang sepunggung dengan mata yang tajam inilah salah satu yang amat sangat tidak beruntung. Ia berlari setengah menderu kearah kantin.

“Gea, ngapain kamu! Ayo cepat baris!”seru Leo, ketua kelas X-D. Kelasnya.

“Berisik! Mau beli topi dulu!”seru Gea sambil terus menuju koperasi. Leo menatapnya kesal namun memilih meninggalkan teman sekelasnya yang tidak tertib itu.

Gea akhirnya tiba di kantin. Disana sudah ada Pak Min, penjaga koperasi sekolah. “Pak, beli topi sekolah satu,”kata Gea sambil menyodorkan uang dua puluh ribu rupiah. “Yah non, topinya sudah habis nih! “kata Pak Min sambil menyerahkan topi terakhir pada seorang siswa pria yang datang terlebih dahulu. Gea mengerjap, “yakin pak? Ayolaaah! I beg you!”seru Gea pakai bahasa Inggris,

“Apaan tuh artinya neng?”tanya Pak Min garuk-garuk kepala. Ia tidak mengerti maksud siswa aneh yang satu ini. Gea menatap Pak Min gelisah. Ia kesal sekali tidak mendapatkan apa yang ia ingikan. “Please pak please!!!”seru Gea. Pak Min hanya garuk-garuk kepala.

“Para siswa diiminta segera berbaris di lapangan upacara,”ujar suara pengumuman dari guru BK. Gea menggigit bibir, sudah pasti nih dia akan dihukum.

Set! Set! Seseorang menjawil pundak Gea, Gea menoleh tidak sabar. “APA!!”seu Gea galak, sedih dan tidak sabaran “Hei, pakai saja puyaku,”kata siswa itu sambil menyodorkan topi yang baru saja dibelinya.

Gea mengerjap tidak percaya. “Apa? Kamu tidak butuh?”tanya Gea.  

“Ys, tapi tmpaknya kamu lebih membutuhkannya,”kata siswa itu. Ia mendekati Gea, keduanya berhadap-hadapan. Ia melepas topinya dan memakaikannya di kepala Gea.

Gea menatap siswa itu, kedua bola mata merek bertemu. “Hai aku Harris, Dari kelas X-B,”kata Haris.

Gea tersenyum. “Hai, aku Gea,”kata Gea. Ia menggigit bibir, tidak tahu harus bicara apa. “Dari kelas X-D,”katanya lagi melanjutkan. Haris tersenyum kepadanya. Jantung Gea berdegup tidak terkendali.   

“Ayo,”kata Harris sambil menggerakkan kepalanya kearah lapangan upacara. Gea tersenyum dan mengikuti.

Lapangan upacara sudah penuh. Beberapa guru sudah berbaris rapi. Tidak perlu waktu lama sebelum mereka sadar Harris tidak memakai atribut upacara lengkap. Mereka mengeksekusi Harris, meminta Harris berbaris di depan bersama para unlucky fellas lainnya.

Sementara Gea langsung bergabung ke barisan kelas X-D. Sepanjang upacara MATA Gea tidak bisa lepas dari Harris.  Awalnya ia merasa rasa bersalah yang sangat dan campur aduk lalu berubah menjadi berbeda saat Harris menyadari tatapan Gea kearahnya. Harris tersenyum lalu mengerlingkan mata. Wajah Gea bersemu merah, entah karena matahari atau perasaan yang membuncah jiwanya.

Gea tersenyum lembut kearah Harris, membalas senyum Harris. Harris tersenyum malu, “Gak usah senyum-senyum kamu!! Kamu dihukum tahu!!” Ujar pak Danar, guru olahraga galak yang mengurusi para unlucky fellas. Harris tersenyum dalam hati, siapa yang peduli dihukum di depan lapangan upacara bila bisa memenangkan hati seorang gadis manis setelahnya?



THE END

Minggu, 28 Juni 2015

Selfie

Hari ini sungguh hari yang berawan! Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi namun Oliver Laurent tidak kunjung kekelas, Malah, ia berada di park bench, kursi taman, duduk sambil bersantai memandang langit temaram.  Banyak orang yang lebih suka memandang langit disaat cerah, namun Oliver lebih suka angin  yang mendung, rasanya jadi membuat hati ini galau. #Eaa!

Disamping Oliver ada handphonenya yang terus berdering. Tidak perlu melihat layar Oliver tahu itu dari Leo.  Sahabat barunya itu sangat rajin belajar, ia pasti akan memarahi Oliver bila tahu Oliver tidak dikelas mengikuti pelajaran hanya untuk menikmati udara pagi yang mendung dan hampir hujan. Orang serius macam Leo tidak akan pernah mengerti kesenangan melakukan siesta seperti sekarang. Ia hanya tahu belajar dan belajar.

Meskipun demikian, Leo adalah sat satunya orang yang mau berada di dekatnya. Lagpula bukan hanya dia yang terlalu serius, seluruh seklah ini sepertinya terdiri dari sekumpulan orang – orang membosankan. Buktiya mreka lebih memilih duduk dikelas, mendengarkan penjelasa guru yang membosankan dibandingkan bermain ditaman yang mendung ini.

Oliver berbaring santai di bangku taman. “Hei, apa yang kau lakukan disana?”tanya sebuah suara  nyaring dan tinggi. Oliver mengerjap, ketahuan kabur dari kelas! Siapa dia? ibu guru? Guru bk? Atau petugas sekolah? Ah… paling ia akan diseret lagi ke ruang BK dan diberi penjelasan bagaimana caranya selamat di bangku SMA. Santai! Ia sudah berada di ruang terkutuk itu tiga kali. Tidak masalah kalau ini yag keempat! Alih alih bangkit, Oliver masih saja tiduran di bangku taman.

Terdengar suara langkah kaki mendekat. “Hei, apa yang kau lakukan disini?”tanya sebuah suara memergoki Oliver yang tengah berbaring. Oliver melihat gadis itu, ia mengenakan seragam The Prestige High School. Ah, ternyata sesama murid kelas X juga! Di lehernya ada kamera SLR. Gadis itu memincingkan matanya seakan tidak suka dengan kehadiran Oliver. Oliver memperhatikan gadis itu dengan seksama. Matanya, hidungnya, bibirnya, rambutnya, bentuk tubuhnya semua biasa saja. Meskipun demikian bila dilihat secara keseluruhan, gadis ini sangat menarik. Bagaimana hal itu bisa terjadi?

Oliver tersenyum kearahnya, ia menyukai semua jenis wnita, termasuk wanita yang ini. “Apa yang ku lakukan disini? Oh Well, apa yang kau lakukan disini?”tanya Oliver balik. Bibir gadis itu menyungging senyum, namun tak mampu meraih matanya. Ia hanya … tersenyum dangkal.

“Slack at school,”senyum gadis itu setengah menyindir.

“Kalau begitu aku juga,”kata Oliver.

Gadis itu mengambil tempat duduk disamping Oliver. Jengah, Oliver langsung bangkit dari pembaringannya dan ikut duduk disamping gadis itu. Gadis itu tampak sangat serius memainkan kamera SLRnya. “Namaku Oliver,”kata Oliver mencoba membuka percakapan.

“Oh halo Oliver. Senang mengenalmu,”kata Gadis itu. Logatnya agak melengking seperti sang ratu memberi perintah pada budaknya, bahkan walaupun itu bukan kalimat seru.  Gadis itu mengutak-atik kameranya.

“Namamu siapa gadis cantik?”kata Oliver.

Gadis itu mengernyit, ia menatap Oliver, “namaku Inez. Dan aku tidak cantik,”kata Inez.

Oliver mengerjap, untuk pertama kalinya ada gadis yang menolak dianggap cantik oleh seorang pria.

“Lalu untuk apa kamu memotret?”tanya Oliver.

Inez berpikir sejenak, “entahlah aku suka saja, menangkap setiap keindahan dari objek objek yang ada disekitarku,”kata Inez.

“Kamu tidak pernah memotret dirimu sendiri?”tanya Oliver. Inez tersenyum malu, lalu menggeleng kepala. “Kenapa?”tanya Oliver. Inez hanya menggeleng dan menghela nafas sambil tersenyum maklum.

Oliver mendekati Inez, ia menatap Inez dengan kedua matanya lekat-lekat namun tidak cukup tajam untuk membunuh gadis itu. Inez menatapnya balik. Gadis itu tertegun. Ada rasa takut dan canggung di matanya. Mulutnya kesulitan menelan ludah.

Perlahan, Oliver mengambil kamera Inez, tidak bermaksud untuk mencurinya.

Oliver meletakkan tangan di kepala Inez, merapikan rambutnya. Inez bisa merasakan sentuhan tangan Oliver yang lembut. Oliver lalu menyetel kamer SLR Inez. “Lihat kesini ya, senyum….!”seru Oliver lalu memotret Inez, mencoba menangkap keindahan dari objek potretnya: matanya, senyum canggungnya, rambutnya yang tidak terlalu rapi. Namun ekspresinya yang malu-malu lah  yang membuat Oliver terpesona. 

Oliver memotret Inez.  

“Sudah,”kata Oliver. Ia mengembalikan kamera tersebut pada Inez. Inez mengambilnya. “Bagaimana hasil potretku?”tanya Oliver. Inez menatap sebuah foto ekspresi dirinya yang malu-malu, tidak buruk. 

“Tidak buruk, apa kamu suka memotret juga?”tanya Inez.

Oliver hanya mendengus, “ah… aku hanya mencoba menangkap keindahan objek, seperti yang kamu lakukan,”kata Oliver.

Inez tertawa, “sungguhkah?”

Oliver mendekati Inez hingga mereka hanya berjarak 5 sentimeter. Inez bahkan bisa merasakan deruan nafas Oliver, “lihat, kamu cantik kan,”kata Oliver. Inez tersenyum.

“Kamu tampan sekali ya Oliver, dan pandai merayu,”kata Inez.

Oliver tersenyum, “well thank you.”

“Aku tahu kamu seorang playboy, kita baru enam bulan bersekolah disini tapi kamu sudah punya tujuh mantan pacar. Aku tidak akan pernah terpikat olehmu,”kata Inez.

Oliver tertawa, witty! Inez gadis yang witty, terus terang dan hal itu tidak membuat Oliver tersinggung sama sekali. Justru membuatnya makin ingin memiliki Inez. “Tidak akan itu kata yang menyakitkan, jangan pernah bilang tidak akan, kita tidak pernah tahu apa yang terjadi di masa depan,”kata Oliver.   

“Memang, tapi aku tahu beberapa hal yang pasti terjadi. Aku selalu yakin pada diriku sendiri,”kata Inez. Oliver tertawa. Inez bangkit dari duduknya, “Good bye, Oliver,”kata Inez.

Oliver mengernyit, “buru-buru amat, mau kemana?”tanya Oliver.

“Menghindari kejaran Kepala Sekolah,”kata Inez sambil  menunjuk seorang wanita tua yang tengah menatap mereka marah. 

“Hei kalian! Siapa nama kalian?! Dari kelas mana??! Jangan kabur ya!”serunya. kalimat wanita tua yang terakhir itu malah semakin menegaskan alasan Oliver untuk segera beranjak dari duduknya.

“Uh oh … kau benar, ini saatnya untuk lari,”seru  Oliver dan keduanya pun berlari, teru berlari.  Oliver terus mencari kesempatan untuk bertemu kembali dengan Inez, menurutnya gadis yang ini sangat unik dan percaya pada dirinya senduru namun tidak pernah berhasil.


The end

Daftar Pustaka

Jumat, 26 Juni 2015

Bougenville


Raisa duduk santai sendirian di salah satu sisi taman The Prestige High School. Jam menunjukkan pukul 15:35. Beberapa siswa sudah menghambur pulang. Mereka berjalan menuju pintu gerbang. Satu dua dari siswa kelas 12 melambaikan tangan kearah Raisa karena mereka mengenalnya. Raisa membalas lambaian tangan mereka satu persatu sambil tersenyum seakan dirinya badut ancol.

Seorang gadis kelas 12 A yang sedang berjalan kearah pintu gerbang mendekatinya. “Raisa, sedang apa kamu? Kamu tidak pulang?”tanya Nadisa, nama gadis itu.

Raisa hanya mengangguk. Ada jeda sesaat, Raisa berkata, “aku sedang menunggu Dean,”kata raisa.
Nadisa tertawa, “oh ya? Ada apa dengannya?”tanya nadisa setengah mengejek.

Raisa memukul bahunya. “kalau kamu Cuma mau mengejek, sebaiknya pergi saja!”seru Raisa.
Nadisa kembali ke teman-temannya. Setengah tertawa lalu menoleh kearah Raisa “Have fun!”serunya sambil melanjutkan perjalanan pulang.

Raisa hanya memutar matanya seakan berkata ‘yang benar saja!’. Dean adalah gebetannya sejak dua bulan terakhir. Cukup melelahkan ‘digantung’ oleh hubungan yang tidak jelas selama itu namun Raisa masih ingin bertahan. Dean cukup tampan, ia juga tidak bodoh, tidak lemah dan tidak pernah terlihat ‘awkward’. Sayangnya baik dirinya maupun Dean tidak terlalu pandai berpacaran. Tidak ada satupun dari mereka yang pernah berpacaran sebelumnya. Meskipun demikian, Dean pantas diperjuangkan.

Selama dua bulan ini Dean dan dirinya hanya pulang bersama, saling berdiskusi, bercanda dan jalan-jalan ke mal saat weekend. Mereka memiliki banyak topic pembicaraan. Raisa suka dengan fashion, artis, lagu-lagu, makanan dan dia senang membagi pengetahuannya itu pada Dean. Dean sebaliknya, ia suka sepakbola, otomotif, dan dia  senang membagi pengetahuannya itu pada Raisa. Ketertarikan mereka pada hal yang berbeda tersebut tidak membuat mereka menjauh, justru saling mendekat dan melengkapi.

Teman-teman mereka pun beririsan. Raisa mengenal beberapa teman Dean, Dean pun mengenal beberapa teman Raisa. Mereka juga saling membicarakan teman masing-masing. Jadi semakin banyak saja ketersediaan bahan pembicaraan untuk mereka.

Meskipun demikian, mereka tidak kunjung menjadi sepasang kekasih. Teman-teman raisa sudah mulai bertanya-tanya, kapan mereka jadian? Apa Dean serius denganmu? Ada kalanya raisa berpikir, mungkin sebaiknya dia mulai duluan menyatakan cinta pada Dean.  

Walaupun begitu, jauh di lubuk hati yang paling dalam, Raisa merasa Dean bukan tipe pria yang suka ditembak cewek. Ia mungkin saja menerima pernyataan cinta Raisa namun Raisa takut itu membuat Raisa terlihat ‘mudah didapat’. Bukankah sudah jadi naluri kalau pria itu lebih suka ‘memburu’ daripada ‘diburu’.

Ah Jadi serba salah.

Raisa menatap sekeliling, pada Bunga bougenville keunguan yang ada di taman. ‘Dear bunga Bougenville yang cantik, apa yang harus kulakukan?’tanya Raisa dalam hati.

Bohong! Bunga Bougenville bukanlah bunga yang cantik. Bunga mawar atau anggrek lebih cantik dari bunga ini. Raisa sering bertanya-tanya sejak kelas 10, mengapa di sekolah ini ada begitu banyak bunga Bougenville.

Saat ia menginjak kelas 11, ia pernah mendengar Pak Min, penjaga sekolah berkata, bahwa bunga Bougenville relative mudah dirawat. Bunga ini tidak butuh pupuk dan tidak punya duri yang berbahaya.  Ia hanya perlu disiram setiap hari. Tidak ada yang special dari bunga ini. Pemilik The Prestige High School bisa saja mengganti bunga Bougenville dengan kembang sepatu atau kenanga atau sedap malam. Tidak masalah! Namun bunga itu sudah ada disana sejak lama, tidak rewel.

Tidak menuntut banyak.

Raisa tertegun sejenak. Kata menuntut membuat dia merefleksikan kembali keinginannya untuk menjadi pacar Dean. Apakah ia menuntut banyak dengan mengharapkan hal tersebut? Raisa menggigit bibir.

15: 45 Setelah sepuluh menit menunggu. Raisa bisa melihat Dean dari kejauhan. Ia berjalan kearahnya agak lambat. Matanya yang hitam menatap kearahnya sambil tersenyum. Raisa membalas senyum Dean.

Tiba-tiba mata Raisa menatap seorang gadis disamping Dean. Oh my God! Who is she? Gadis itu berjalan beriringan dengannya. Dari gerakan badannya sepertinya Dean dan gadis itu tengah melakukan percakapan yang cukup seru.

Cemburu! Raisa merasa cemburu!

Dean dan gadis itu mendekatinya. Raisa menarik nafas. Ia sudah siap dengan apa yang mereka katakan. “Raisa, kenalkan ini Fanny, adik kelas kita, kelas 11-D. Dia anggota baru tim sepakbola cewek. Dia akan meminjam beberapa majalah bola ku,”kata Dean.

Fanny tersenyum kearah Raisa, “hai kak!”sapanya.

Raisa menghela nafas. “Oh hai!”sapa Raisa balik.

“Okay, sampai ketemu besok ya Kak Dean, jangan lupa bawa majalahnya!”seru Fanny.

Dean tertawa. “Okay!”  Raisa menatap sosok Fanny sampai menghilang dari batas horizon.

“Maaf ya kamu jadi menunggu aku karena Fanny tiba tiba mengajakku bicara,”kata Dean. Raisa menggeleng. Sungguh, menunggu sepuluh menit bukan masalah baginya.

Dean tertawa, “ayo kita pulang,”katanya mengalihkan.

Raisa menatap Dean, ia setengah menyeret kakinya untuk menuju gerbang sekolah. Ada hal yang ingin ia sampaikan pada Dean namun tertahan. Pikiran Raisa menimbang-nimbang perlu tidaknya ia mengatakan hal tersebut pada Dean. 

“Aku sempat berpikir kamu dan Fanny pacaran,”kata Raisa akhirnya setelah beberapa langkah.
Dean menatapnya setengah mengernyit. “Kenapa begitu?”tanya Dean.

“Entahlah… kupikir kalian terlihat cocok,”kata Raisa. Dean menatapnya lekat-lekat.

“Apakah kita tidak pernah terlihat cocok dimatamu?”tanya Dean. Raisa mengerjap. Ia menatap Dean. Dean tersenyum kearahnya. Raisa mencoba menangkap maksud Dean. Ada keyakinan bahwa kalimat itu mengindikasikan Dean sudah menganggap Raisa pacarnya, tapi apa benar begitu?

“Ma… maksudnya?”tanya Raisa.

Dean menghela nafas sambil tersenyum jahil. “Kau tahu maksudku, dan aku tidak ingin mengulanginya lagi,”kata Dean.

Raisa menatap lamat-lamat. Ia akhirnya tersenyum. Untuk pertama kalinya ia melihat wajah Dean sewarna dengan bunga-bunga Bougenville itu.

Daftar Pustaka
http://www.shutterstock.com/video/clip-33961-stock-footage-beautiful-hot-pink-bougainvillea-flowers-sway-in-a-warm-spring-breeze.html



The Barbie Girl

Ada banyak tipe gadis di The Prestige High School. Ada yang berusia 14 tahun, ada yang sudah 19 tahun. Ada yang berjerawat, ada yang berwajah halus. Ada yang titisan Einstein ,ada pula yang lamban berpikir. Ada yang pendiam ada yang sangat cerewet. Ada yang senang berdandan, ada yang cuek datang ke sekolah tanpa mandi.

Diantara semua gadis-gadis itu ada Ella. Nama panjangnya Estrella Putri. Secara harfiah artinya puteri bintang. Seperti namanya yang cantik, wajahnya pun juga sangat cantik. Ella berambut ikal kecokelatan, mata besar hitam, bibir kecil merekah, hidung mancung dan lancip. Tulang pipi dan rahangnya menyatu dan melengkung dengan sempurna. Ella tinggi dan kurus dengan proporsi badan yang sempurna namun agak janggal seperti boneka Barbie. 

Dalam kesehariannya, Ella adalah sosok yang pendiam. Ia seringkali melamun membuatnya sulit dibedakan dengan manekin di toko pakaian bila teman-temannya mengajaknya berjalan ke mall. Walaupun pendiam, ia baik dan sabar. Ella memiliki beberapa teman yang selalu mengerumuninya. Seperti lebah di sarangnya.

Meskipun masih kelas 10, pendiam dan tidak terlalu pintar, Ella sudah cukup terkenal dikalangan pria. Sudah jadi rahasia umum bila pria tertarik pada wanita dari penampilan fisiknya. Banyak pria dari kelas 10, 11 dan 12 yang jatuh cinta pada Ella sejak pandangan pertama. 

 “Bagaimana mungkin ada cewek yang matanya besar dan indah seperti itu? Menurutku dia gadis yang sangat menarik!”seru Daniel dari kelas 10-B.

“Dia gadis yang paling cantik yang pernah kulihat,”ujar Fero dari kelas 11-C terkesima menatap sosok Ella yang sedang duduk dua meter darinya di kantin sekolah.

 Meskipun demikian, tidak  ada yang yang lebih menginginkan Ella selain pria kelas 12. Logikanya mereka sebentar lagi akan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Mereka tidak akan bertemu lagi dengan makhluk cantik ini selamanya. Makanya mereka tidak ingin menyianyiaka kesempatan. Meskipun tidak menjadi pacarnya, tapi setidaknya mereka bisa mengajaknya ke acara malam perpisahan sekolah.

Saat ini Ella belum dimiliki siapapun. Ia bebas, ia jomblo, ia single. Dan ia masih sering bengong. Puteri, salah satu sahabatnya suatu kali bertanya, “diantara semua pria yang mendekati kamu, ada tidak yang kamu suka?”tanyanya.

Ella menatapnya sejenak. “Ada.”

Mata puteri membesar, ia terlihat antusias. “Oh ya siapa?”tanyanya penasaran.

Ella hanya tersenyum. Wajahnya bersemu, semerah tomat. “Ada deh,”jawabnya misterius.

Puteri penasaran, ia menatap kearah Ella biasanya bengong. Matanya bertemu dengan sekelompok siswa kelas 10 yang sedang beristirahat di depan kelas.

Puteri tahu mereka, nama gengnya The Trojan Horse. Anggotanya terdiri dari enam orang, empat pria dan dua wanita. Keenamnya cukup dikenal disekolah. Leo dan Oliver, dua cowok paling tampan di kelas 10 berasal dari geng tersebut. Dua pria sisanya, Martin dan Nolan tidak punya harapan. Oliver adalah playboy kelas wahid, baru enam bulan sekolah disini, mantan pacarnya sudah tujuh orang. Ella tidak mungkin suka dengan tipikal playboy seperti Oliver. “Leo ya?”tebak puteri sambil tersenyum.

Ella menggeleng. 

“Oliver?”tanya Puteri dengan nada tinggi seakan tidak percaya.

Ella menggeleng lagi. Dua anggota The Trojan Horse sisanya adalah perempuan, Jasmine dan Kayla. Jasmine manis dengan hidung bangir, kulit cokelat dan mata yang teduh sedangkan Kayla memang sangat seksi dengan kulit kuning emas, bibir bak disengat lebah dan mata tajam menantang. Dengan sedikit usaha Kayla popular dikalangan pria, sama seperti Ella yang tidak perlu berusaha.

“Kamu bukan lesbi kan?”tanya Puteri mengernyit keras.

Ella tergelak, “bukan!”jawabnya. 

Oh, mungkin pria itu bukan dari The Trojan Horse! Sampai sekarang Puteri tidak tahu dengan pasti siapa pria beruntung itu meskipun ia memohon pada Ella untuk diberitahu.   

***

Salah satu diantara pria kelas 12 yang mencoba mendekati Ella adalah Kak Yusuf. Dia tergolong tampan untuk ukuran pria indonesia. Ia berkulit putih, tinggi, berotot dengan senyum yang lebar dan gigi geligi yang rapi dan matanya hitam cemerlang. Setiap kali tersenyum dua lesung pipit menghiasi tepi kiri dan kanan pipinya. Satu dua adik kelas pernah terpesona dan menyatakan cinta.  Sayangnya seperti Dean, Kak yusuf pantang memakan buruan yang sudah menyerah. Ia ingin mengejar, ia ingin berburu. Dan matanya tertuju pada Ella.

Kak Yusuf meminta teman-teman satu gengnya membantunya. Gengnya terdiri dari siswa kelas 12 pria dan wanita. Ia meminta teman wanitanya untuk membawa Ella ke tempat sepi. Tidak sulit melakukannya, salah satu kroni Yusuf adalah panitia Orientasi belajar siswa baru, Vivian. Vivian cukup dikenal dikalangan siswa kelas 10 sebagai kakak kelas yang mendisiplinkan mereka saat orientasi dulu.

“Ella, sini deh kak Vivian mau bicara,”kata kak Vivian saat jam istirahat. Saat itu Ella dan beberapa temannya tengah bergegas ke kantin. Ella setengah bingung, “ada apa kak?”tanya Ella.

“Sudah ikut saja yuk!”senyum Vivian. Ella yang setengah kebingungan dibawa Vivian ke lapangan parker motor sekolah. Sementara Puteri dan Quinn, dua sahabat Ella mengikuti Kak Vivian. Mereka khawatir Ella di bully.

Dilapangan parkir itu hanya ada tiga orang kakak kelas, ketiganya pria. Salah satunya kak Yusuf. Melihat Ella, wajah kak Yusuf tersenyum lebar seperti hyena di padang pasir. ‘Ini dia buruanku’, begitu kata tatapannya.

“Hai Ella,”kata Yusuf saat Ella datang.

Ella mencoba tersenyum, “hai kak,”jawabnya sopan. Yusuf membungkuk dan mencium punggung tangan Ella seperti pangeran dari abad ke 15. Wajah Ella memerah, jantungnya berdebar cepat. Ia tidak pernah diperlakukan begitu baik dan sopan seperti yang dilakukan Yusuf padanya.

Yusuf menatap Ella sejenak, menikmati saat dimana buruannya tertarik pada umpan. “Perkenalkan, aku Yusuf dari kelas 12-A. Panggil saja Yusuf. Aku sejak lama tertarik denganmu, Ella,”katanya.

Ella mengerjap. Ia tahu beberapa pria memang tertarik dengan wajah barbienya, namun tidak banyak yang mengatakan langsung kepadanya seperti itu. “Te… terimakasih kak,”jawab Ella canggung. Kepercayaan diri Yusuf naik beberapa ratus persen. Ia yakin sekali, ialah yang akan menaklukkan Ella.

“Apa kamu mau menjadi pacarku?”tanya Yusuf seketika.

Ella terdiam.

1… 2… 3…

“Maaf kak, tidak bisa. Ella sudah punya orang yang Ella sukai,”jawab Ella.

JEGER! Rasanya ada petir menyambar hati Yusuf. Tidak ingat berapa volt. Vivian terkikik sementara seorang teman Yusuf menepuk punggungnya sambil berkata, “sabar ya bro!”

“Oh begitu, ya,”kata Yusuf. Ella mengangguk.

“Okay tidak apa-apa,”kata Yusuf  menelan kekecewaan. Kak Yusuf pun pergi dengan langkah gontai diiringi tiga temannya. Ketiganya mengelus punggung Kak Yusuf sambil menghiburnya.

Quinn dan puteri Persia yang sejak  tadi menonton sekarang menghampiri Ella yang terdiam seperti manekin.

“Ella kamu baru saja menolak Kak Yusuf!”seru Puteri tidak percaya.

Quinn menepuk punggung Ella, menyadarkan gadis itu dari lamunannnya.

“Keren banget!”seru Quinn. Ella menatap keduanya.

“Menurut kalian begitu?”tanya Ella. Ia menggigit bibir, tidak tahu apakah harus merasa senang atau sedih. Yang pasti ia telah menyakiti seseorang. Ella tidak bangga karenanya.

“Kamu suka dengan kak Yusuf?”tanya Quinn. Ella menggeleng. “Berarti kamu telah melakukan hal yang benar dengan menolak cintanya. Kadang kamu harus berani bilang 'tidak'. Jangan menerima begitu saja semua kemauan orang lain,”kata Quinn.

Ella masih terdiam, “begitukah, jadi menurut kalian aku sudah melakukan hal yang tepat?”tanya Ella. Ia masih merasa tidak benar. Puteri hanya mengangguk.

Quinn memegang punggung Ella yang masih setengah tersadar. “Baiklah cantik, sekarang kita pergi dari sana. Cinta sudah ditolak namun hidup masih harus berjalan,”kata Quinn.

Ella membiarkan dirinya dituntun oleh Quinn dan Puteri kembali ke kelas. Ia masih setengah tak sadar. Apakah yang kulakukan pada Kak Yusuf? Apakah aku jahat menolak cintanya? Meskipun demikian, pun bila aku menerimanya, apakah aku tidak jahat telah membohongi diri sendiri karena aku sebenarnya tidak menyukainya? Ahh…. For better for worst, I still have two wonderful person beside me, My ‘Queen’ and my ‘Princess’.

THE END

Minggu, 21 Juni 2015

Introduction

Hi There Welcome to The Prestige High School....



Ini adalah sekolah fiksi yang terletak di dekat Pantai Utara Jakarta. Sekolah ini sangat menarik namun sederhana. Sekolah ini terbuat dari dinding batu bata, lantai kayu dan banyak jendela-jendela besar yang langsung menghadap ke laut. Angin pesisir kadang membelai rambut para siswanya di kala mereka belajar dikelas.

Sekolah ini berlantai tiga dan berbentuk segi empat. Dindingnya bercat krem dan atapnya berwarna merah genting. Siswa kelas 10 belajar di lantai 1, siswa kelas 11 belajar di lantai 2, siswa kelas 12 belajar di lantai 3. Dari lantai 3, siswa dapat melihat lautan luas dikarenakan ketinggian gedung. 

Fasilitas yang ada di The Prestige High School meliputi lapangan olahraga besar  biasanya digunakan juga  untuk upacara hari senin. Lapangan olahraga terletak di samping sekolah. Lapangan tersebut dapat digunakan sebagai lapangan futsal, volley, badminton, cricket, dan basket. Sekolah ini juga memiliki meja tennis untuk tennis meja dan satu ruangan gym yang terletak di lantai dua. 

Selain fasilitas olahraga, sekolah ini juga memiliki fasilitas laboratorium. Ada Lab Kimia, Lab Biologi, lab bahasa dan lab musik.  Lab-lab tersebut tersebar dari lantai dua dan tiga. 

Di lantai satu tidak ada laboratorium karena ruang guru, kepala sekolah, ruang administrasi, ruang BK dan ruang tamu berada disana. 

Di setiap lantai gedung terdapat  toilet dan ruang ganti baju untuk menunjang pelajaran olahraga. Untuk menunjang transportasi, disediakan pula lapangan parkir untuk kendaraan motor dan mobil. meskipun demikian karena lahan parkir mobil terbatas, jumlah pengguna mobil dibatasi. 

Terdapat taman di sisi-sisi lapangan olahraga, Bunga bougenville, bunga matahari dan aster mewarnai taman tersebut bersamaan dengan pohon mangga, salam, dan belimbing wuluh. 

Meskipun sekolah elit, letak sekolah terdepat berada disekitar perumahan kampung sehingga jalan akses ke sekolah masih belum teraspal.

Sekolah ini cukup berprestasi di Jakarta namun bukan itu hal yang penting. 

Sekolah ini akan menjadi latar dari banyak kisah cinta. Kisah cinta tersebut dialami oleh orang yang berbeda, dengan takdir dan karakter yang berbeda. Sekolah inilah yang menjadi saksinya. Enjoy!  
  
 Daftar pustaka gambar: