Tidak ada yang dapat menghentikan Leo
Ia selalu medapatkan apa yang ia inginkan
Murid lain seringkali merasa kagum dengan pencapaian yang ia
dapatkan
Ia ambisius, cerdas, pekerja keras dan cukup atletis
Bagian terburuknya, ia tidak pernah merasa puas
Lebih hebat lagi, lebih sempurna lagi!
Sempurna… sempurna… sempurna…
Tidak boleh lengah, tidak boleh kalah.
Menyingkirlah kalian! Akulah yang nomor satu!
Dan biasanya ia selalu berhasil
Biasanya
Meskipun demikian kali ini tidak begitu
Ada seorang gadis yang mencuri kemenangannya
Tidak boleh ada satu orang pun yang mencuri kemenanganku
Adalah Ilsa Herman pelakunya
Pencuri! Pikir Leo.
Ia tidak percaya akan hasil akhir ujian matematika di
sekolah semester satu
Leo berada di posisi kedua untuk ingkat satu sekolah.
Hal yang sama terjadi pada hasil akhir ujian Fisika dan
Kimia
Leo berada di posisi kedua untuk tingkat satu sekolah
Posisi pertamanya dipegang oleh Ilsa Herman
Tidak boleh ada satu orang pun yang mencuri kemenanganku
Setelah hasil ujian kimia diumumkan, Leo gelisah.
Ia ingin mencari tahu sosok Ilsa Herman
“Untuk apa? Kamu nomor satu di pelajaran sastra, nomor satu
dipelajaran olahraga. Untuk apa kamu juga ingin menjadi nomor satu dipelajaran
eksakta?”tanya Oliver, sahabatnya.
“Kamu tidak bisa menjadi nomor satu dalam semua hal,”kata
Kayla, sahabatnya yang lain
Leo justru semakin
gelisah.
“Aku hanya ingin tahu siapa itu Ilsa Herman!”seru Leo keras
kepala.
“Hanya?”tanya Kayla menggoda.
“Hanya!”tandas Oliver mengejek.
Tidak ada satupun
siswa kelas X yang mengenal seluruh siswa kelas X. Dalam hubungan
interpersonal, mereka biasanya membentuk kelompok 3-6 orang dan tidak peduli
apa yang terjadi pada siswa diluar kelompok mereka.
Leo juga demikian, ia tidak mengenal seluruh anggota kelas
X. Walaupun begitu, dengan pencarian ekstensif dan bantuan dari Kayla, sahabatnya
yang punya banyak kenalan. Ia berhasil mengetahui sosok Ilsa Herman.
Awalnya Leo berpikir, Ilsa Herman adalah gadis kelas X yang
mad-scientist! Ia berambut berantakan, bermata besar dan memakai kacamata
tebal.
Leo salah… lagi!
Ilsa Herman adalah gadis yang tinggi, kurus dengan tulang
pipi yang tinggi, mata kecil yang tajam, tidak memakai kacamata, bibir yang
kecil dan bila tersenyum, senyumnya seperti Monalisa. Kamu tidak tahu apakah ia
benar-benar tersenyum atau Cuma efek cahaya.
Ilsa bergaul dengan sejumlah gadis dan beberapa siswa
laki-laki. Ia berasal dari kelas X-F, enam kelas jauhnya dari kelas Leo, X-A.
Leo menghampiri Ilsa saat ia punya waktu di jam istirahat
siang pukul 12. Saat itu matahari sedang menyinari bumi dengan seluruh panas
yang bisa ia gunakan. Ilsa sedang memakan batagor dengan beberapa orang gadis.
Ia tidak tahu Leo akan menghampirinya.
“Halo, Ilsa ya! Perkenalkan, saya Leo dari kelas X-A,”kata
Leo memperkenalkan diri. Ilsa menatapnya dingin selama beberapa detik namun Leo
tidak canggung dibuatnya. Hanya lelaki lemah yang canggung berkenalan dengan
seorang gadis.
“Oh, halo,”kata Ilsa membalas sapaannya Leo. “ada perlu
apa?”tanyanya sambil menaikkan alis. Tatapan ilsa padanya lebih menunjukkan
keheranan saat Leo menatapnya tajam, setajam silet. Tatapan Leo berkata, I will
kill you.
Ilsa tersenyum, ia mencoba memahami maksud kedatangan Leo
namun tidak yakin dengan jalan pikirannya sendiri. Satu-satunya yang ada
dipikiran Ilsa mengenai Leo adalah dia berada di posisi dibawahnya dalam setiap
hasil ujian eksakta dan Leo tidak puas.
Meskipun demikian, masa iya Leo datang karena itu? Leo juara
satu dalam olahraga, pelajaran bahasa dan seni. Namanya bertengger di posisi
puncak di pengumuman ujian tengah semester X. Berapa banyak lagi medali yang
perlu ia klaim untuk memuaskan self-esteemnya?
Leo mengedut, senyuman Ilsa diartikan sebagai, ‘kill me if
you can!’ “Aku ingin bertanya, apa kamu curang dalam ujian eksakti tengah
semester kemarin?”tanya Leo.
Ilsa menggeleng. Leo menghela nafas. Hening sesaat.
Ilsa menatapnya tajam langsung ke mata Leo. “Hey, apa aku
menyakitimu dengan menjadi nomor satu dalam ujian eksakta? Kamu menjadi nomor
satu dalam hasil ujian yang lain kan?”tanya Ilsa
.
Leo mendengus. “Aku ingin selalu menjadi nomor satu dalam
semua hal, jadi menyingkirlah!”jawab Leo tegas.
Ilsa seketika menatap tajam kearah Leo. Tidak pernah dalam
hidupnya ada seorang pria yang menantang dirinya. Darah Ilsa berdesir. Ia
seperti seorang pemburu yang tengah berburu, dan targetnya kali ini sangat
licik, pintar, sulit didapat dan begitu ia inginkan.
Ilsa tersenyum,
matanya bercahaya.
Leo menangkap semacam
gairah yang sangat besar dimatanya. Antara sungkan dan tertantang, Leo menerima
tatapan tajam Ilsa dan membalasnya dengan tatapan yang setajam mungkin. Bagi
Leo, tidak pernah ada seorang gadis yang dapat membuat darahnya berdesir dan
jantungnya berdegup secepat itu.
Ilsa begitu penuh dengan percaya diri. Begitu yakin bisa
mengalahkan Leo. Keyakinan yang perlu Leo BASMI seperti kecoak di kamar mandi.
“Aku tidak akan menyingkir. Kamulah yang harus
menyingkir,”jawab Ilsa. Leo mendengus sambil meninggalkannya.
Ilsa menatap punggung Leo sampai pemuda itu diluar jangkauan
pandangannya. Seketika udara disekeliling Ilsa menjadi lebih teduh seiring
kepergian Leo. Tadi itu entah kenapa udaranya jadi pengab dan panas.
Tiba-tiba seorang teman Ilsa berbisik kepadanya, “HE IS
SOOO HOT!”katanya.
Ilsa tertawa, “ya, dan arogan juga!”tambah Ilsa.
Ilsa dan Leo tidak pernah berbicara lagi setelah itu.
Meskipun demikian keduanya saling mengawasi satu sama lain.
Ilsa mulai mengumpulkan informasi tentang Leo. Ia sering melihat Leo membaca di
sudut kelas bersama beberapa sahabatnya. Ia seorang pria yang rajin, darah Ilsa
berdesir, Ia begitu takut kehilangan medali eksaktanya sekaligus merasa Leo
adalah tantangan menarik yang harus ia lampaui. Tantangan yang hot!
Leo pun seringkali mengawasi Ilsa. Ilsa seringkali terlihat
melatih kemampuan logikanya. Leo jadi takut kemampuannya terlampaui setiap kali
melihat Ilsa belajar. Ilsa juga sering terlihat makan batagor dan
bersosialisasi. Untuk yang ingin, Leo tidak takut untuk melihatnya.
Tak terasa ujian akhir semester 1 kelas X sudah hampir tiba.
Leo belajar hingga larut malam. Ia ingin sempurna! Sempurna!
Kantung matanya semakin tebal .
Beberapa hari menjelang ujian Matematika dan Eksakta, Kayla
menghampirinya. Gadis cantik itu membawa satu botol cola. “Hey ada titipan dari
kelas X-F,”kata Kayla sambil menyerahkan satu botol cola itu.
Leo mengernyit. “Aku tidak punya teman anak kelas X-F.”
“Miungkin bukan teman, mungkin calon pacar,”tawa
Oliver.Kayla dan Oliver tertawa puas sambil toast.
Leo mengernyit tidak mengerti, “huh? Dari siapa?”
“Pacarmu, Ilsa!”seru Kayla menegaskan.
Leo tersenyum kecut. “Dia bukan pacarku.”
“Apa bedanya? Kamu memikirkannya sepanjang hari, siang dan
malam,”balas Oliver. Kayla tertawa.
Leo mendengus. Ia mengambil botol cola tersebut. Ada kertas
post-it notes tertempel. Kertas itu bertuliskan, “Selamat berjuang, Leo!”
Leo tersenyum.
Eeeh! Ada tulisan lagi dibawahnya.
“Ps: tapi akulah yang nomor satu!”
Leo mendengus kesal.
Esoknya, Ilsa mendapatkan kiriman satu paket batagor dengan
post-it notes yang sama.
“Selamat berjuang, Ilsa.
PS: TAPI AKULAH YANG NOMOR 1!”
Ilsa tertawa. Ia menyimpan kertas post-it notesnya dan
memakan batagor tersebut meskipun ia khawatir batagornya beracun. Pantang baginya
menolak makanan yang disediakan musuhnya, itu pertanda ia seorang gadis
pengecut. Ilsa bukan pengecut
Ujian pun dimulai
Dan pengumuman ujian pun disebar. Inilah hasilnya:
Matematika: 1. Leo
2.
Ilsa
Kimia: 1.
Ilsa
`` 2.
Leo
Fisika: 1.
Ilsa
2. Leo
Ilsa dan Leo sama-sama menghitung skor mereka. Ilsa
tersenyum puas. Ia masih berhasil mengungguli Leo meskipun harus menyerahkan
posisi nomor satunya dalam Matematika.
Selepas ujian, SMA The Prestige High School libur akhir
semester selama dua minggu. Murid-murid kelas satu sangat senang dengan hal
itu. Di Hari Jumat, hari terakhir mereka sekolah sebelum libur dua minggu
mereka ke sekolah hanya untuk melihat hasil ujian.
Leo bertemu kembali dengan Ilsa di depan papan pengumuman
ujian. Tidak banyak siswa yang berlama-lama melihat papan pengumuman ujian.
Mereka lebih senang main futsal di lapangan, atau bergosip dengan
teman-temannya di sudut-sudut sekolah.
Ilsa sedang mencatat skor ujiannya. Leo bisa melihat dari
papan pengumuman, Ilsa tidak terlalu pintar dalam pelajaran apapun kecuali
eksakta.
“Hei,”sapa Leo.
Ilsa menatapnya. Lalu tersenyum. “HEI,”sapa Ilsa balik.
Hening. “Aku masih menang,”kata Ilsa lagi.
“Ya, kuakui itu. Kamu orang yang sulit dikalahkan,”kata Leo.
Ilsa memulas bibirnya dengan senyum tipis, setipis jarring laba-laba.
“Apakah itu pujian?”tanya Ilsa.
Leo menatapnya tajam. “Ya, kamu pintar dan jujur saja, aku
merasa tertantang saat bersama denganmu,”kata Leo.
“Ohh… semoga itu berarti sesuatu,”kata Ilsa setengah
menggoda. Leo tertawa. Ilsa senang melihat Leo tertawa, untuk pertama kalinya
ia mengendurkan urat lehernya saat menatap Leo.
“Aku juga merasa tertantang saat bersama denganmu,”ujar Ilsa
mengakui. Leo menatapnya. Ilsa jadi kembali merasa udara disekitar dirinya
memanas. Seakan ia berteleportasi ke inti matahari. “Aku suka itu,”tambah Ilsa malu-malu.
Leo menunduk, memandang lantai tempat ia berpijak. Berharap
ia benar-benar masih memijak lantai. Untuk pertama kalinya ada seorang gadis
yang berkata ‘suka’ dengannya. Leo tidak tahu harus bereaksi bagaimana, tapi ia
menyukai itu.
Untuk pertama kalinya Ilsa melihat Leo menunduk, biasanya
kepalanya tegak lurus atau mendongak. "Aku juga suka itu,”ujar Leo
mengakuinya. Siapapria yang tidak suka pada gadis yang dapat menarik
perhatiannya siang dan malam dan membuat darahnya berdesir?
Leo dan Ilsa tersenyum malu-malu sambil menatap satu sama
lain. Leo yang kembali memulai percakapan, “mau kutraktir batagor?”tawarnya.
IIsa tersenyum, “Aku suka batagor.”
“
Ya aku tahu itu!”tandas Leo.
“Apa kamu tahu kita sama-sama seorang yang ambisius?”tanya
Ilsa.
“Ya, itu adalah hal yang sama dari kita. Yang menyatukan
kita, yang membuat kita berjalan beriringan ke kantin,”jawab Leo setengah
tertawa.
Ilsa tidak berkata apa-apa, ia hanya tahu darahnya berdesir
dan jantungnya berdetak cepat saat ia berada disisi Leo.
TAMAT