Ada banyak tipe gadis di The
Prestige High School. Ada yang berusia 14 tahun, ada yang sudah 19 tahun. Ada
yang berjerawat, ada yang berwajah halus. Ada yang titisan Einstein ,ada pula
yang lamban berpikir. Ada yang pendiam ada yang sangat cerewet. Ada yang senang
berdandan, ada yang cuek datang ke sekolah tanpa mandi.
Diantara semua gadis-gadis itu
ada Ella. Nama panjangnya Estrella Putri. Secara harfiah artinya puteri bintang.
Seperti namanya yang cantik, wajahnya pun juga sangat cantik. Ella berambut
ikal kecokelatan, mata besar hitam, bibir kecil merekah, hidung mancung dan
lancip. Tulang pipi dan rahangnya menyatu dan melengkung dengan sempurna. Ella
tinggi dan kurus dengan proporsi badan yang sempurna namun agak janggal seperti
boneka Barbie.
Dalam kesehariannya, Ella adalah
sosok yang pendiam. Ia seringkali melamun membuatnya sulit dibedakan dengan
manekin di toko pakaian bila teman-temannya mengajaknya berjalan ke mall.
Walaupun pendiam, ia baik dan sabar. Ella memiliki beberapa teman yang selalu
mengerumuninya. Seperti lebah di sarangnya.
Meskipun masih kelas 10, pendiam
dan tidak terlalu pintar, Ella sudah cukup terkenal dikalangan pria. Sudah jadi
rahasia umum bila pria tertarik pada wanita dari penampilan fisiknya. Banyak
pria dari kelas 10, 11 dan 12 yang jatuh cinta pada Ella sejak pandangan
pertama.
“Bagaimana mungkin ada cewek yang matanya
besar dan indah seperti itu? Menurutku dia gadis yang sangat menarik!”seru
Daniel dari kelas 10-B.
“Dia gadis yang paling cantik
yang pernah kulihat,”ujar Fero dari kelas 11-C terkesima menatap sosok Ella
yang sedang duduk dua meter darinya di kantin sekolah.
Meskipun demikian, tidak ada yang yang lebih menginginkan Ella selain
pria kelas 12. Logikanya mereka sebentar lagi akan melanjutkan pendidikan ke
jenjang yang lebih tinggi. Mereka tidak akan bertemu lagi dengan makhluk cantik
ini selamanya. Makanya mereka tidak ingin menyianyiaka kesempatan. Meskipun
tidak menjadi pacarnya, tapi setidaknya mereka bisa mengajaknya ke acara malam
perpisahan sekolah.
Saat ini Ella belum dimiliki
siapapun. Ia bebas, ia jomblo, ia single. Dan ia masih sering bengong. Puteri,
salah satu sahabatnya suatu kali bertanya, “diantara semua pria yang mendekati
kamu, ada tidak yang kamu suka?”tanyanya.
Ella menatapnya sejenak. “Ada.”
Mata puteri membesar, ia terlihat
antusias. “Oh ya siapa?”tanyanya penasaran.
Ella hanya tersenyum. Wajahnya bersemu,
semerah tomat. “Ada deh,”jawabnya misterius.
Puteri penasaran, ia menatap
kearah Ella biasanya bengong. Matanya bertemu dengan sekelompok siswa kelas 10
yang sedang beristirahat di depan kelas.
Puteri tahu mereka, nama gengnya
The Trojan Horse. Anggotanya terdiri dari enam orang, empat pria dan dua wanita.
Keenamnya cukup dikenal disekolah. Leo dan Oliver, dua cowok paling tampan di
kelas 10 berasal dari geng tersebut. Dua pria sisanya, Martin dan Nolan tidak
punya harapan. Oliver adalah playboy kelas wahid, baru enam bulan sekolah
disini, mantan pacarnya sudah tujuh orang. Ella tidak mungkin suka dengan
tipikal playboy seperti Oliver. “Leo ya?”tebak puteri sambil tersenyum.
Ella menggeleng.
“Oliver?”tanya Puteri dengan nada
tinggi seakan tidak percaya.
Ella menggeleng lagi. Dua anggota
The Trojan Horse sisanya adalah perempuan, Jasmine dan Kayla. Jasmine manis
dengan hidung bangir, kulit cokelat dan mata yang teduh sedangkan Kayla memang
sangat seksi dengan kulit kuning emas, bibir bak disengat lebah dan mata tajam
menantang. Dengan sedikit usaha Kayla popular dikalangan pria, sama seperti
Ella yang tidak perlu berusaha.
“Kamu bukan lesbi kan?”tanya
Puteri mengernyit keras.
Ella tergelak,
“bukan!”jawabnya.
Oh, mungkin pria itu bukan dari
The Trojan Horse! Sampai sekarang Puteri tidak tahu dengan pasti siapa pria
beruntung itu meskipun ia memohon pada Ella untuk diberitahu.
***
Salah satu diantara pria kelas 12
yang mencoba mendekati Ella adalah Kak Yusuf. Dia tergolong tampan untuk ukuran
pria indonesia. Ia berkulit putih, tinggi, berotot dengan senyum yang lebar dan
gigi geligi yang rapi dan matanya hitam cemerlang. Setiap kali tersenyum dua
lesung pipit menghiasi tepi kiri dan kanan pipinya. Satu dua adik kelas pernah
terpesona dan menyatakan cinta.
Sayangnya seperti Dean, Kak yusuf pantang memakan buruan yang sudah
menyerah. Ia ingin mengejar, ia ingin berburu. Dan matanya tertuju pada Ella.
Kak Yusuf meminta teman-teman
satu gengnya membantunya. Gengnya terdiri dari siswa kelas 12 pria dan wanita. Ia
meminta teman wanitanya untuk membawa Ella ke tempat sepi. Tidak sulit
melakukannya, salah satu kroni Yusuf adalah panitia Orientasi belajar siswa
baru, Vivian. Vivian cukup dikenal dikalangan siswa kelas 10 sebagai kakak
kelas yang mendisiplinkan mereka saat orientasi dulu.
“Ella, sini deh kak Vivian mau
bicara,”kata kak Vivian saat jam istirahat. Saat itu Ella dan beberapa temannya
tengah bergegas ke kantin. Ella setengah bingung, “ada apa kak?”tanya Ella.
“Sudah ikut saja yuk!”senyum
Vivian. Ella yang setengah kebingungan dibawa Vivian ke lapangan parker motor
sekolah. Sementara Puteri dan Quinn, dua sahabat Ella mengikuti Kak Vivian.
Mereka khawatir Ella di bully.
Dilapangan parkir itu hanya ada
tiga orang kakak kelas, ketiganya pria. Salah satunya kak Yusuf. Melihat Ella,
wajah kak Yusuf tersenyum lebar seperti hyena di padang pasir. ‘Ini dia
buruanku’, begitu kata tatapannya.
“Hai
Ella,”kata Yusuf saat Ella datang.
Ella mencoba tersenyum, “hai
kak,”jawabnya sopan. Yusuf membungkuk dan mencium punggung tangan Ella seperti
pangeran dari abad ke 15. Wajah Ella memerah, jantungnya berdebar cepat. Ia
tidak pernah diperlakukan begitu baik dan sopan seperti yang dilakukan Yusuf
padanya.
Yusuf menatap Ella sejenak,
menikmati saat dimana buruannya tertarik pada umpan. “Perkenalkan, aku Yusuf
dari kelas 12-A. Panggil saja Yusuf. Aku sejak lama tertarik denganmu,
Ella,”katanya.
Ella mengerjap. Ia tahu beberapa
pria memang tertarik dengan wajah barbienya, namun tidak banyak yang mengatakan
langsung kepadanya seperti itu. “Te… terimakasih kak,”jawab Ella canggung. Kepercayaan diri Yusuf naik
beberapa ratus persen. Ia yakin sekali, ialah yang akan menaklukkan Ella.
“Apa
kamu mau menjadi pacarku?”tanya Yusuf seketika.
Ella terdiam.
1… 2… 3…
“Maaf kak, tidak bisa. Ella sudah
punya orang yang Ella sukai,”jawab Ella.
JEGER! Rasanya ada petir
menyambar hati Yusuf. Tidak ingat berapa volt. Vivian terkikik sementara
seorang teman Yusuf menepuk punggungnya sambil berkata, “sabar ya bro!”
“Oh begitu, ya,”kata Yusuf. Ella
mengangguk.
“Okay tidak apa-apa,”kata
Yusuf menelan kekecewaan. Kak Yusuf pun
pergi dengan langkah gontai diiringi tiga temannya. Ketiganya mengelus punggung Kak Yusuf sambil menghiburnya.
Quinn dan puteri Persia yang
sejak tadi menonton sekarang menghampiri Ella yang terdiam seperti manekin.
“Ella kamu baru saja menolak Kak Yusuf!”seru Puteri tidak percaya.
Quinn menepuk punggung Ella, menyadarkan
gadis itu dari lamunannnya.
“Keren banget!”seru Quinn. Ella
menatap keduanya.
“Menurut kalian begitu?”tanya Ella. Ia menggigit bibir, tidak
tahu apakah harus merasa senang atau sedih. Yang pasti ia telah menyakiti
seseorang. Ella tidak bangga karenanya.
“Kamu suka dengan kak Yusuf?”tanya Quinn. Ella
menggeleng. “Berarti kamu telah melakukan hal yang benar dengan menolak
cintanya. Kadang kamu harus berani bilang 'tidak'. Jangan menerima begitu saja
semua kemauan orang lain,”kata Quinn.
Ella masih terdiam, “begitukah,
jadi menurut kalian aku sudah melakukan hal yang tepat?”tanya Ella. Ia masih merasa tidak benar. Puteri
hanya mengangguk.
Quinn memegang punggung Ella yang
masih setengah tersadar. “Baiklah cantik, sekarang kita pergi dari sana. Cinta
sudah ditolak namun hidup masih harus berjalan,”kata Quinn.
Ella membiarkan dirinya dituntun oleh Quinn dan
Puteri kembali ke kelas. Ia masih setengah tak sadar. Apakah yang kulakukan
pada Kak Yusuf? Apakah aku jahat menolak cintanya? Meskipun demikian, pun bila
aku menerimanya, apakah aku tidak jahat telah membohongi diri sendiri karena
aku sebenarnya tidak menyukainya? Ahh…. For better for worst, I still have two wonderful
person beside me, My ‘Queen’ and my ‘Princess’.
THE END